Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Waria dan Umpatan ‘Sundala’

Kontes Kecantikan WariaDalam perjalanan pulang malam dari Makassar ke Pangkep, karena kelelahan dan ngantuk, saya biasanya memanfaatkan waktu dalam perjalanan itu untuk tidur. Hal ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak lama mengenal angkutan umum yang namanya pete – pete, khususnya kalau dalam perjalanan jauh. Bagi saya, tidur di pete – pete merupakan satu kenikmatan tersendiri, semilir angin yang tertiup lewat jendela mobil berkapasitas penumpang 11 orang itu tak kalah nikmat dibanding kalau kita nginap di kamar hotel ber-AC. Karena ingin menikmati tidur, biasanya saya nitip pesan ke pak sopir agar dibangunkan satu jam kemudiannya. Tapi suara – suara gaduh dalam perjalanan malam akhir pekan kemarin itu benar – benar membuat saya tidak nyaman. Suara – suara sundala’ yang memekakkan telinga.

Ternyata saya satu pete – pete dengan tiga orang bencong (waria). Ketiganya terlibat seru pembicaraan mengenai ’pacar’ masing – masing. Diantara mereka tidak ada yang mau mengalah, mereka satu sama lain membanggakan pacarnya dan pada saat yang bersamaan, merekapun satu sama lain menjelekkan pacar temannya. Perjalanan malam itu benar – benar tidak mengenakkan, terdesak oleh himpitan badan penumpang lainnya, disaat yang sama pembicaraan trio bencong itu semakin memanas, sampai akhirnya salah seorang diantaranya mengatakan, ”ide’e kabbulamma, sundala, tanja’nae”. Teman yang satunya menimpali, ”apa tong kau, ana’ sundala, bencong ?”, Yang terakhir mengatakan, ”ide’e galle, para bencong jaki !”.

Saya terhenyak, terpukau oleh kosa kata yang digunakan trio bencong itu. Boleh dikata hampir sepuluh tahun terakhir ini, kata – kata seperti kabbulamma dan sundala barusan malam itu saya dengar lagi. Semakin malam larut, semakin banyak kata – kata kotor yang terdengar dari mulut ketiganya dan sayapun semakin takjub, karena kata – kata seperti io, i-kau, tilaso, kabbulampe, sundala, callege-lege, kabulator begitu familiar di kalangan mereka. Apakah mereka punya semacam kesepakatan internal menyangkut bahasa, kebiasaan, atau perilakunya untuk membedakan komunitas para waria ini ?

***

Tata Krama adalah kebiasaan, merupakan tata cara yang lahir dari hubungan antar manusia, baik menyangkut bahasa (kana-kana/pau-pau) ataupun perilaku (panggaukang), yang disepakati bersama, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dimana dinilai baik, sopan, santun untuk dipraktekkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Budaya (Culture) yang dianut dan dikembangkan itu mengandung sejumlah sistem nilai atau sistem adat. Sehingga semakin kokoh entitas budaya masyarakat, semakin berkemampuan dan berkompetensi pulalah masyarakat tersebut dalam mengembangkan kualitas kehidupan pribadi serta kelompoknya.

Kita hidup dalam kurun waktu yang ditandai dengan aneka ragam perubahan yang sangat cepat dalam berbagai segi kehidupan. Seiring dengan perubahan itu, terjadi pula perubahan cara memandang dan menafsirkan norma-norma kehidupan. Apa yang dulu dianggap “aksioma, tabu, pantangan, kasipalli” kini dipertanyakan, didiskusikan, dan dibahas. Apa yang dulu dibungkus rapat-rapat kini disingkap lebar-lebar. Tabu menjadi tabuhan. Tabuhan menjadi tabu, larangan menjadi anjuran. Anjuran menjadi larangan. Tahap serba tak pasti ini ditandai oleh gesekan dan benturan berbagai norma, sangat terasa dalam menerapkan kaidah sopan santun. Yang sopan dan yang santun dalam berpakaian, makan, berjalan dan berbicara serta bergaul setidak-tidaknya menjadi kurang jelas. Dahulu pada banyak masyarakat, kalau orang tua memarahi anaknya, sang anak bukan saja tak boleh mengajukan keberatan atau membantah, menatap mata orang tuapun dianggap keterlaluan.

Tata Krama dan Etika Sosial (Social Ethics and Order) bagi orang Bugis Makassar penting diajarkan kepada anak dengan maksud untuk melatih kehalusan bahasa sekaligus kehalusan budi pekerti anaknya. Mereka takut dan khawatir anaknya akan berbuat aib atau mempermalukan keluarganya (appakasiri) hanya karena tidak tahu berbahasa yang baik menurut adat. Jika terjadi demikian, sering kita mendengar umpatan, ‘tau tena pangngadakkangna’ (Bugis : de’ gaga pangngaderrengna) atau ‘tau-kurang ajara’. Hal ini tentu bukan saja berdampak pada sang anak, tetapi juga pada orang tuanya, yang berarti masyarakat bisa menilai bahwa orang tua anak tersebut kurang memberikan nasehat dan pelajaran tentang tata krama dan sopan santun.

Dalam hubungannya dengan kasus yang saya alami diatas, nampaknya di saat masyarakat umum sudah jengah dan bosan dengan pemakaian kata – kata yang tidak pantas seperi ”sundala, tilaso, kabbulamma, kabbulampe” ternyata ada satu komunitas yang justru ’melestarikan’ kosa kata tersebut. Para waria ini semakin hari semakin banyak, semakin banyak kata – kata kotornya serta semakin menonjolkan aspek sensualitas dan seksualitasnya, berorganisasi pula. Lucunya lagi, kitapun semakin dibuat bergantung dengan kehadirannya : merias pengantin, menata lamming (pelaminan), bahkan untuk sekedar cukur rambut sekalipun.

Dahulu kehadiran seorang calabai atau bencong dapat dianggap sebagai aib masyarakat sehingga harus diusir atau diasingkan, paling tidak mereka tidak dibiarkan berkeliaran keluar masuk kampung. Sekarang malah mendapatkan posisi ’dibutuhkan’ dalam masyarakat. Mengkhawatirkannya karena kata – kata sundala’ khas mereka bukanlah kata eksklusif, tapi kata yang setiap saat terlontar begitu saja tanpa pandang situasi dan kondisi. Banyak anak sekolah yang ikutan terjalari oleh kata – kata mereka, malahan bergaul dengan akrab dengan komunitas galle ini. Pemerintahpun ikut latah dengan memfasilitasi berbagai lomba dan kontes waria yang dilaksanakan.

Nampaknya, ”kalo ndak sundala’, ndak bencong banget gitu lho”. Banyak teman yang awalnya ternganga mendengar penjelasan saya mengenai ’kemajuan’ para waria ini. Salah seorang teman mahasiswa S2 yang tertarik meneliti mengenai hal ini setelah saya ceritakan bahasa, perilaku dan kebiasaan komunitas waria ini memberikan ’solusi brilian’, ”Bagaimana kalo kita dorong pemerintah daerah melalui Pol PP-nya dan elemen masyarakat terdidik untuk melaksanakan ’Operasi Bencong’ atau ’Sweeping Waria’, karena kalau mereka sudah banyak sekali dan mereka bebas mengumbar seks sesama jenis, ini akan mengundang datangnya azab Allah ?”. Mendengar saran teman tersebut, giliran saya yang ternganga dan tak dapat berkata apa – apa. Segitunyakah ??

Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’. Mariki di’. (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: