Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Tradisi Ma’barazanji dalam Masyarakat Bugis Makassar

Suatu hari saya diperhadapkan pada kejadian memalukan saat menghadiri undangan malam paccing pengantin anak tetangga. Ketika itu sang imam kampung yang biasa memimpin barzanji berhalangan hadir, sehingga kitab barazanji-pun yang sekiranya dapat dibaca bergiliran di malam paccing itu juga tidak ada. Karena terdesak waktu dan undangan sudah banyak yang hadir, akhirnya kepada hadirin saya mengungkapkan, “engkama kitta’ barazanji koe bolae”. Memang enam bulan lalu saya menyempatkan diri membeli buku Kitab Barazanji di TB Thoha Putera depan Kampus UIN Alauddin dan karena kesibukan, kitab barazanji tersebut belum sempat saya buka dan periksa isinya, apalagi membacanya.

Karena kitabnya baru dan belum pernah tersentuh, saat kitab tersebut saya sodorkan ke pembantu imam, dia kesulitan mendapatkan halaman bacaan awal pembukaan barazanji. Nampaknya dia juga kurang familiar dengan bacaan barzanji. Saat itu, hampir semua jamaah dan undangan yang hadir bersamaan menoleh ke saya meminta halaman bacaan awal pembukaan barazanji. Ruangan itu langsung gaduh saat saya menjawab, “de’to ussengi iya”. Apa yang saya alami merupakan satu gejala hilangnya atau semakin berkurangnya penerus pembaca barzanji. Padahal ma’barazanji merupakan satu rangkaian acara dalam setiap upacara adat ‘siklus hidup’ dalam masyarakat Bugis Makassar.

***

Benang merah antara agama dan budaya itu tentu sudah lama menorehkan sejumlah masalah, baik dari segi subtansinya, maupun tanggapan yang berkembang di tengah masyarakat. Diantara sekian banyak perdebatan itu antara lain menyangkut pembacaan barzanji (mabbarazanji), perayaan maulid (ammaudhu’) dengan segala baku’ dan kanre maudhu’-nya, asyura (ajjepe syura), upacara-upacara adat dan tradisi yang berkaitan dengan perayaan siklus hidup seperti : alahere, aqeqah, appatamma, khitanan adat (assunna), appabunting, dan ammateang. Begitu pula upacara adat lainnya seperti menre bola, mappalili, mappadendang, mattemmu taung), ziarah kubur (assiara ri kobbang), apparuru lopi atau ammocci biseang, appanaung, appanaik, dan lain sebagainya. Setiap upacara adat dan tradisi tersebut selalu disertai dengan pembacaan kitab barzanji.

Hal ini terjadi pula pada Perayaan Hari – hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut : appakarammula, ammone baku, ammode’ baku, angngantara kanre maudu’, pannarimang kanre maudu’, a’rate (assikkiri’), pammacang salawa, pattoanang, pabbageang kanre maudu. Perayaan hari-hari besar islam yang juga menghadirkan pembacaan “zikkiri – barazanji”, selain Maulid Nabi adalah : Isra Mi’raj, Sepuluh Muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doang” (Pembaca Doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) ke rumahnya untuk membacakan segala jenis dan rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan. Dalam pandangan agama (Islam), hal tersebut bisa dianggap musyrik (menyekutukan Allah) atau “bid’ah” (tidak ada dalam syariat Islam/tidak ada tuntunannya sebagaimana yang pernah dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW).

Seperti diketahui, Agama Islam masuk di Sulawesi Selatan, dengan cara yang sangat santun terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat Bugis Makassar. Bukti nyata dari sikap kesantunan Islam terhadap budaya dan tradisi Bugis Makassar dapat kita lihat dalam tradisi – tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini. Seperti mengganti pembacaan kitab La Galigo dengan tradisi pembacaan barzanji, sebuah kitab yang berisi sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, dalam setiap hajatan dan acara, doa – doa selamatan, bahkan ketika membeli kendaraan baru, dan lain sebagainya. Tradisi Mabbarazanji ini merupakan bukti terjadinya asimilasi damai dengan budaya Bugis Makassar.

Dengan semakin berkurangnya orang yang bisa membaca kitab barzanji, apakah ini merupakan awal kehancuran atau hilangnya tradisi masyarakat Bugis Makassar terkait perayaan atau penyelenggaraan upacara siklus hidup (alahere, aqeqah, appatamma, khitanan adat (assunna), appabunting, dan ammateang), ataukah akan muncul tradisi baru, tradisi lama tanpa pembacaan kitab barzanji, ataukah dengan gejala ini, merupakan suatu awal yang bagus bagi masyarakat islam bugis makassar untuk meninggalkan dan menanggalkan tradisi budayanya yang ‘kurang islami’, dan apakah benar membaca kitab barzanji merupakan suatu hal yang bid’ah dalam pandangan ajaran Islam.

Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: