Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Mengenal Saidi dengan Kebissuannya

Oleh : M Farid W Makkulau

SUATU waktu dua teman wartawan, seorang wartawan media lokal dan seorang lagi jurnalis TV mendatangi saya di kantor humas. Mereka mengungkapkan kebingungannya usai mewawancarai seorang tokoh budaya Pangkep. ”Kenapa ? memangnya dia bilang apa ?”, tanya saya. Serentak mereka menjawab bahwa wawancara dilakukannya selama dua jam dan tidak ada satupun kata – kata dari tokoh budaya itu yang dimengertinya. Mereka kemudian menyerahkan rekaman hasil wawancaranya, saya menyimpulkan bahwa adalah hal yang wajar—sama wajarnya dengan kebanyakan orang yang berbicara dengannya—jika mereka tidak mengerti kata – kata tokoh budaya itu. Orang yang dia maksudkan tak lain ialah Saidi (Puang Matoa Saidi), pemimpin tertinggi komunitas Bissu Dewatae’ di Segeri-Pangkep.

Sebagai Puang Matoa Bissu, Saidi bukan hanya kerap mencuri perhatian ketika melakukan atraksi seni tari maggiri bersama bissu lainnya, tetapi juga bicaranya kadang mengundang decak kagum, termasuk kedua teman wartawan tadi. Teman wartawan ini meskipun tidak mengerti apa yang diucapkan narasumbernya, tetapi setidaknya mereka sadar bahwa apa yang diungkapkan oleh Puang Matoa Bissu tersebut sarat dengan kearifan lokal, pengetahuan budaya yang langka serta filosofi hidup bugis masa lampau yang mengesankan. Dengan merekam ‘petuah sakti’ Saidi tersebut, kedua teman ini saya anggap telah ikut berjasa mendokumentasikan pustaka leluhurnya. Didalamnya banyak kita dengar secara mengesankan petuah bugis dalam bahasa bugis kuno, ‘Basa Ugi Galigo’.

Sebagai seorang Bissu dengan tradisi male transvestite-nya (lelaki yang berperan sebagai perempuan), bagi banyak orang awam biasanya sukar untuk percaya bahwa penampilan laki – laki dengan muka kasar dan berjanggut ini menjadi begitu lebay dan gemulai saat maggiri, mengiringi alunan musik palappasa. Tampak lembut sekaligus mengerikan menyaksikannya menusukkan keris ke lengan, badan, dan lehernya. Yang khas dari Puang Matoa ini adalah ’pamoro-moronya’ (suka marah), dia sama sekali tidak memberi ruang toleransi untuk dibantah oleh bissu lainnya, apalagi jika itu menyangkut kelengkapan upacara adat, seperti mattemmu taung, mappalili, dan lain sebagainya. Di luar itu, Saidi tampaknya seorang laki – laki yang sopan, santun, murah senyum, dan sangat menghargai orang.

Salah satu kelebihan komunitas bissu adalah kenyataan bahwa mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’(Bahasa orang langit). Bahasa inilah yang kadang bercampur dengan bahasa bugis pasaran dalam komunikasi sehari – hari. Memang, keberadaan bissu sebagai benang merah kesinambungan adat dan tradisi bugis kuno yang masih eksis di tanah bugis hingga dewasa ini. Bissu dalam upacara adat tidaklah berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari budaya atau tradisi yang berlaku bagi masyarakat pendukungnya. Itulah sebabnya, Bissu kadang juga memosisikan diri sebagai sanro’ atau pinati, perias pengantin, peramal (membaca tanda – tanda kehidupan seseorang yang datang kepadanya), atau sebagai traditional event organizer bagi kegiatan seni budaya pemerintah atau masyarakat yang punya hajatan.

Meski hidup bersahaja dengan kearifan lokal masa lalu, Saidi yang boleh dikatakan ’makhluk langka’ ini telah melanglang buana bersentuhan dengan dunia teater kontemporer arahan Robert Wilson. Sebagai seorang bissu yang bisa membaca La Galigo, Saidi terlibat sebagai pembaca sure’ Galigo dalam pementasan teater Galigo keliling dunia di Belanda, Italia, Amerika, Singapura, Perancis dan negara dunia lainnya. Disetiap pementasan teater tersebut, selalu mendapatkan standing aplaus sebagai bentuk apresiasi luar biasa dari masyarakat seni internasional. Sementara di dalam negeri sendiri, khususnya di kampungnya sendiri, lebih diposisikan sebagai sanro’ jika tidak ada kesibukan atau undangan pertunjukan dari pemerintah setempat.

Perbedaan bissu dengan waria kebanyakan adalah ilmu, bahasa dan kesaktian yang dimilikinya, selain cara berpenampilan dan berpakaian tentunya. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Menurut Saidi, untuk menjadi bissu harus ada panggilan spiritual dan hal ini tidak bisa direkayasa, apalagi sampai berbohong. Sebagai Puang Matowa, dirinya akan mendapat isyarat akan adanya waria yang akan datang magang ke rumahnya. Sesama bissu juga mendapat semacam anugerah untuk dapat mengetahui basa torilangi, meski tidak ada yang mengajarkannya kepada mereka. Puang Lolo Bissu, Puang Upe mengaku mendapatkan tuntunan menjadi bissu sejak berusia 13 tahun. Sejak awal dia sudah menyadari kelainan yang dialaminya, dan dia mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Makanya Puang Upe datang berguru kepada bissu – bissu senior ketika itu, termasuk diantaranya Puang Matoa Sanro Seke’.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu, kata Saidi, diwajibkan berpuasa (appuasa) selama sepekan hingga empat puluh hari, setelah itu bernazar (mattinja’) untuk menjalani prosesi irebba. Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian puang matoa atau puang lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada “Bola Arajang” (Rumah Pusaka).

Prosesi irebba ini, kata Saidi, bisa berlangsung biasanya 3 – 7 hari setelah itu dimandikan, dikafani, dan dibaringkan berdasarkan hari yang dinazarkan. Diatasnya digantung sebuah guci berisi air dan selama disemayamkan, calon bissu dianggap dan diperlakukan layaknya orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang menjalani prosesi irebba dan setelah melewati upacara sakral itu seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan. Seorang bissu diwajibkan untuk menjaga sikap, perilaku dan tutur katanya.

Dalam komunitas yang dipimpinnya, ketentuan pengunduran diri seorang bissu tidak terlalu jelas. Ikatan hanya terjadi pada kesakralan irreba yang merupakan kontrak spiritual mereka dengan para dewa. Kata Saidi, tak sedikit bissu yang melanggar ketentuan dari para dewa kemudian celaka, misalnya, bila mereka melakukan tindakan asusila. Bissu bisa bertahan hingga kini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasrat keinginan atau permohonannya. Akan tetapi tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung (sawah) arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, kata Saidi, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Demikian yang dapat saya jelaskan. mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.🙂Puang Matoa Saidi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: