Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

‘Dewata Seuwae’, Tuhan dalam Pemahaman Turiolo Bugis Makassar

Sejak masa kanak – kanak sampai remaja, saya sering bertanya kepada pak guru di sekolah atau pada orang tua di rumah, “Benarkah Tuhan (baca : Allah SWT) itu memiliki ‘sifat adil’ dalam menilai hambanya, dan seterusnya memasukkan hambanya tersebut ke dalam neraka sedangkan hamba (baca : manusia) tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri”.

Pengetahuan tentang Tuhan disini, tentu saja merujuk kepada pengetahuan tentang Ketuhanan sebagaimana diajarkan oleh agama yang diturunkan oleh Tuhan itu sendiri. Maksudnya saya disini, ada – ada saja orang tertentu yang didalam hidupnya tidak pernah mengenal agama, dan tentu saja tidak memiliki pengetahuan tentang siapa yang menciptakan dirinya atau tidak memiliki pemahaman tentang Tuhan itu sendiri, karena itu ‘Adilkah’ jika di pengadilan akherat nanti mereka – mereka ini dimasukkan ke dalam neraka, padahal selama hidupnya tidak ada pengetahuan yang sampai kepadanya tentang Tuhan dan Agama. Ok, mungkin disini masih membingungkan. Pertanyaan mendasar yang ingin saya ajukan disini, ”Bagaimana dengan masyarakat Bugis Makassar sebelum kedatangan Islam ? Apakah adil, jika Tuhan sampai memasukkan moyang leluhur kita tersebut kedalam neraka, padahal mereka—pada masa lampau—tidak ada pengetahuan yang sampai kepadanya, tentang Agama dan Ketuhanan ?.

Jika pertanyaannya seperti diatas, tentu akan meluas. Bukan hanya etnis Bugis Makassar pada masa lampau yang tidak mengenal Agama dan Ketuhanan (Baca : Islam). Bangsa atau etnis lain yang jumlah ratusan di nusantara ini pada masa lampau juga tidak mengenal Islam. Tidak usah jauh – jauh, beberapa etnis dan sub etnis di Papua sana sampai sekarang masih banyak yang belum tersentuh pengetahuan tentang Agama dan Ketuhanan. Tulisan ini pada akhirnya ingin berbicara tentang ”Tuhan” dalam perspektif budaya Bugis Makassar, dan supaya kita semua tidak terjerumus kepada pemikiran yang sesat dalam membicarakan Tuhan, tentu jawaban atas pertanyaan saya tersebut tidak semata menyandarkan pada jawaban budaya, tetapi juga pada kajian keagamaan.

Taruhlah mereka di masa lampau memiliki pengetahuan tentang ‘Tuhan’. Tapi apakah pemahaman mereka secara ‘etnisentrisme’ dapat dibenarkan secara teologis, menurut pandangan agama (baca : Islam) yang diturunkan oleh Tuhan (baca : Allah SWT). Sebagai contoh, dalam masyarakat Bugis Makassar, penamaan tentang ‘Tuhan’ itu bermacam – macam, ada yang menyebutnya : Dewata SeuwaE, PatotoE, Turie’ Arana, Puang Seuwae’ To PalanroE, Puang MappancajiE, Karaeng Allahu Ta’ala, Puangta Allah Ta’ala, dan lain sebagainya. Apakah penamaan etnisentrisme tentang ‘Tuhan’ ini dapat dibenarkan menurut pemahaman ajaran Agama Islam ? Apakah Nama – nama Tuhan tersebut menurut kepercayaan lama orang Bugis Makassar dapat disamakan dengan nama ‘Allah SWT’ sebagai nama Tuhan yang sah dan valid dalam konsep dan ajaran Islam ?.

***

Sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis Makassar sudah mempunyai “kepercayaan asli” (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama ‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa orang Bugis Makassar memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Menurut Mattulada, religi orang Bugis – Makassar masa Pra-Islam seperti tergambar dalam Sure’ La Galigo, sejak awal telah memiliki suatu kepercayaan kepada suatu Dewa (Tuhan) yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama : PatotoE (Dia yang menentukan Nasib), Dewata SeuwaE (Dewa yang tunggal), dan Turie A’rana (kehendak yang tertinggi).

Kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau PatotoE, diyakini pula mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan beragam tugas. Untuk memuja dewa – dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa pembantunya. Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang secara harfiah berarti mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong juga diwariskan petunjuk – petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat. Raja atau penguasa seluruh negeri Bugis Makassar mengklaim dirinya mempunyai garis keturunan dengan Dewa – dewa ini melalui Tomanurung (orang yang dianggap turun dari langit / kayangan), yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti kerajaan yang ada. (Kambie, 2003).

Istilah Dewata SeuwaE itu dalam aksara lontaraq, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya : Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis Makassar. De’watangna berarti “yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontarak Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE” merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis – Makassar. (Abidin, 1979 : 12 dan 59).

Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan “PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepercayaan Patuntung, lihat : Martin Rossler, “Striving for Modesty : Fundamentals of The Religion and Social Organization of The Makassarese Patuntung”, dalam BKI deel 146 2 en 3 en aflevering, 1990 : 289 – 324 dan WA Penard, “De Patoentoeng” dalam TBG deel LV, 1913 : 515 – 54.

Gervaise dalam “Description Historique du Royaume de Macacar” sebagaimana dikutip Pelras (1981 : 168) memberikan uraian tentang agama tua di Makassar. Menurut Gervaise orang-orang Makassar zaman dahulu menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang disembah pada waktu terbit dan terbenamnya Matahari atau pada saat Bulan tampak pada malam hari. Mereka tidak mempunyai rumah suci atau kuil. Upacara sembahyang dan Kurban – kurban (makassar : karoba) khususnya diadakan di tempat terbuka. Matahari dan Bulan diberi kedudukan yang penting pada hari-hari “kurban” (allo pakkarobang) yang selalu ditetapkan pada waktu Bulan Purnama dan pada waktu Bulan mati, karena itu pada beberapa tempat yang sesuai disimpan lambang-lambang Matahari dan Bulan. Tempat ini dibuat dari tembikar, tembaga, bahkan juga dari emas (Pelras, 1981 : 169).

Selain menganggap Matahari dan Bulan itu sebagai Dewa, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya. (Martinus Nijhoff, 1929, 365-366).

Kepercayaan lama yang sudah mengakar kuat bagi masyarakat Bugis Makassar memang berusaha dicarikan padanannya dalam ajaran Islam. Untuk merukunkan kedua kepercayaan itu, menurut Dr. Christian Pelras, penyiar agama Islam berusaha mengembangkan dalam kalangan istana suatu aliran mistik Bugis kuno dengan Tasawuf Islam. Hasil perpaduan dua kepercayaan itu, hingga kini masih bisa ditemukan dalam sejumlah naskah. Seperti yang telah dibicarakan oleh G Hamonic, dimana “Dewata SeuwaE’ PapunnaiE” (Dewata Tunggal yang Mempunyai kita) telah disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa ; “Dewa La Patigana” (Dewa Matahari) dan “Dewi Tepuling” (Dewa Bulan) disebut masing – masing sebagai “Malaikat Matahari” dan “Malaikat Bulan”. Adapun para Dewata dianggap termasuk bangsa Jin dan mitos tentang ’Sangngiang Serri’ sendiri tidak lagi dianggap sebagai “Dewi Padi” melainkan “jiwa padi”. (Kambie, 2003).

Penulis berkebangsaan Portugis, Tome Pires, yang mengunjungi Indonesia pada tahun 1512 – 1515, menyebutkan bahwa di Sulawesi Selatan terdapat sekitar 50 kerajaan yang masyarakatnya masih menyembah berhala. Salah satu bukti bahwa beberapa kerajaan di Sulawesi pada waktu itu tidak mendapat pengaruh Hindu tapi masih memiliki adat istiadat dan kepercayaan leluhur yang kuat, ialah dengan cara penguburan. (Nugroho Notosusanto, et.al, 1992). Praktek penguburan pada masyarakat Bugis Makassar pada waktu itu masih mengikuti tradisi pra-sejarah, yaitu jenazah dikubur mengarah timur – barat dan pada makamnya disertakan sejumlah bekal kubur seperti mangkuk, cepuk, tempayan, bahkan barang – barang impor buatan China, tiram, dan lain sebagainya. Juga dalam cara penguburan ini terdapat kebiasaan untuk memberi penutup mata (topeng) dari emas atau perak untuk jenazah bangsawan atau orang – orang terkemuka. (Pelras, 1972 : 208-210).

Macknight (1993 : 38) menyebutkan bahwa Penelitian arkeologi maupun berita Portugis melaporkan bahwa orang Makassar pada masa pra-Islam mempraktekkan penguburan kedua (sekunder), sebagaimana yang masih dipraktekkan orang Toraja sampai pada awal Abad XX dengan menggunakan gua-gua sebagai tempat penguburan. Raja dan bangsawan seluruh negeri Bugis, Makassar, bahkan termasuk Mandar dan Toraja di Sulawesi Selatan mengklaim diri mereka punya garis keturunan dengan Dewa – dewa melalui Tomanurung yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti yang ada. Mitos ini berkaitan dengan pandangan teologis (theology view) bahwa Dewata Seuwae’ melahirkan sejumlah Dewata (Rewata), yang merupakan asal usul Tomanurung, yang juga merupakan asal-usul seluruh penguasa dinasti di semenanjung Sulawesi Selatan. Mitos ini sangat kuat dipercayai dan tak tergoyahkan. (Kambie, 2003).

Dilihat dari perjalanan sejarahnya, masyarakat Bugis Makassar dikenal sebagai masyarakat yang sangat kuat berpegang pada kepercayaan lama yang bersumber dari Kitab La Galigo. Meskipun Islam sudah menjadi agama resmi Masyarakat Bugis Makassar namun Kepercayaan – kepercayaan lama itu masih mewarnai keberislaman mereka. Hal ini tercermin lewat berbagai ritual dan tradisi yang masih bertahan hingga kini. DGE Hall (Badri Yatim, 1996 : 211-212) mengungkapkan bahwa terlambatnya Islam diterima di Sulawesi Selatan, disebabkan kuatnya masyarakat Bugis Makassar berpegang pada adat dan kepercayaan lama. Menerima Islam, menurut mereka, akan berimplikasi pada perubahan budaya yang mendalam. Pada beberapa aspek tertentu, kepercayaan leluhur Bugis Makassar yang bersumber dari ajaran Sure’ Galigo dapat pula disebut agama karena menganjurkan penganutnya dan dalam kepercayaan tersebut terdapat berbagai aturan dan tata cara, yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian dan penghambaan diri terhadap Sang Maha Pencipta (PatotoE). (Kambie, 2003 : 68).

Menurut Pelras (1981 : 17), Orang Bugis – Makassar itu baru masuk Islam setelah berhubungan selama 120 tahun dan selama itu mereka menolaknya. Hal ini didukung oleh fakta sejarah bahwa Islam sudah dibawa oleh para pedagang Melayu di sekitar Abad XV, namun baru bisa menjadi agama resmi kerajaan, agama penguasa dan rakyatnya di penghujung akhir Abad XVII. Pelras juga menegaskan bahwa kesetiaan terhadap kepercayaan lama merupakan salah satu faktor penolakan Islam, sehingga butuh proses lama untuk merubah pandangan dan kepercayaan tersebut.

Pada saat pertama mengenal Islam, Raja-raja di Sulawesi Selatan khawatir dengan kehadiran Islam akan membahayakan aturan sosial dan kekuasaan mereka, khususnya terkait mitos Tomanurung. Dengan menganut Islam, berarti tidak ada lagi pembedaan status sosial berdasarkan keturunan, kebangsawanan atau kelahiran. Dalam pandangan Agama Islam, semua manusia sama kedudukannya dihadapan Tuhan, kecuali mereka (orang islam) yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

***

Sampai disini penjelasan tentang Dewata Seuwae’, saya kira kita sudah bisa menarik benang merahnya. Orang Bugis Makassar pada masa lampau sudah memiliki kepercayaan asli, yang berarti mereka memiliki pengetahuan tentang Ketuhanan. Hanya saja, apakah pemahaman mereka tersebut dapat dibenarkan secara agama ataukah pemahaman seperti itu dengan segala praktek kepercayaannya dapat digolongkan sebagai kaum musyrikin. Apakah dengan pemahaman ketuhanan seperti itu, masyarakat bugis makassar pada masa lampau dapat digolongkan sebagai masyarakat jahiliyah sebagaimana masyarakat jahiliyah Quraisy sebelum agama Islam diturunkan di tanah Mekkah.

Untuk menertibkan uraian pembahasan mengenai Dewata Seuwae’ ini, catatan ini nantinya diikuti dengan pembahasan tematik lainnya tentang Tomanurung, Sawerigading, dan Kitab La Galigo sehingga pertanyaan berikutnya yang layak diajukan adalah terkait dengan Qs. Yunus : 47 yang mengatakan bahwa, ”Dan kepada tiap golongan, terdapat seorang rasul”, dan Qs. An-Nahl : 36, ”… Dan sesungguhnya telah kami bangkitkan kepada setiap umat itu seorang rasul”. Seorang penulis potensial, AS Kambie (Parasufia, 2003) pernah mengulas tentang ini, dalam buku ”Akar Kenabian Sawerigading”, dengan pendekatan hermeneutik, dia mencoba menelorkan tesis bahwa Sawerigading adalah nabi bagi bangsa atau kaum Bugis Makassar dan Kitab La Galigo adalah kitab sucinya, apalagi jika ditilik dari sejarahnya, kaum Bugis Makassar sudah ada sejak abad I Masehi.

Dalam bahasa Arab, terdapat sejumlah kata yang kadang disetarakan dengan makna agama, seperti ad-dien, al-millah, dan asy-syir’ah wa minhaj. Kata ad-dien sendiri memiliki sejumlah makna, seperti al-inqiyad wa ath-tha’ah, artinya tunduk dan patuh (QS Al-Imran : 19), al-jaza, al-hisab, zalika ad-dien al-qayyim, maliki yaumi ad-dien, al-qadha, at-tha’ah, al-mukafah, al-hudhu, al-siyasa, as-syariah, dan lain sebagainya. Dien yang biasa diterjemahkan agama, menurut Syaikh M. Abdullah Badran, adalah gambaran hubungan antara dua pihak, dimana pihak pertama mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kedua. Jika merujuk kepada pengertian ini, tentu kepercayaan lama masyarakat Bugis Makassar tersebut tidak termasuk didalamnya karena bukan hanya salah konsep, tetapi juga menyalahi syariat.

Menurut Abdullah Badran, seluruh kata dalam bahasa Arab yang menggunakan huruf dal, ya, dan nun, seperti daenun, artinya utang. Atau dana yadienu, berarti menghukum atau taat. Kesemuanya menggambarkan adanya dua pihak yang melakukan interaksi (Shihab, 1992 : 209). Kesimpulannya, orang yang menunaikan ad-dien, berarti telah muslim, taat, penebus utang dan siap menghadapi hisab di hari kemudian. Bagaimana dengan Ad-dien orang Bugis Makassar yang banyak belo – belonya saat ini, dimana Dewata Seuwae’ masih sering diperdengarkan dalam kehidupan sosial dan pelaksanaan upacara adat ?

Demikian yang dapat saya jelaskan. Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ . (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: