Oleh: madidi75 | Mei 26, 2010

Pengalaman Merantau dan Ingatan terhadap Saladin

"Become a Writer"

Di tahun 1997, saya merantau ke Kalimantan Timur dan selama 6 bulan di penghujung akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998, kerjaan saya hanya mondar mandir Samarinda – Balikpapan. Bidang Pekerjaan yang saya geluti kala itu cukup keren kedengarannya, ’marketing refresentatif’ meskipun kata kasarnya dapat disamakan dengan sales door to door. Yang sedikit mengobati kepedihan nasib kala itu karena produk yang dipasarkan adalah ilmu dalam kopor. Didalamnya ada buku dan cassetes panduan berbahasa asing, sehingga ada kesempatan juga mempelajarinya.

Pekerjaan marketing tersebut mengharuskan saya belajar mengenal banyak orang yang sebelumnya belum pernah saya kenal dan temui bahkan belum pernah saya ketahui latar belakang pribadi dan sosialnya. Dengan kata lain, inti pekerjaan ini adalah memperluas jaringan kerja (networking) dan kesuksesannya pun tergantung seberapa besar keahlian meyakinkan banyak orang dengan segala macam ‘fasilitas’ yang disiapkan : brosur, sampel produk, dasi (supaya keliatan kayak orang terpelajar dan profesional), semir sepatu (supaya sepatu tetap keliatan mengkilat meskipun seharian abis dipakai jappa paruntang), dan tentunya sedikit parfum. (yang terakhir ini sudah tidak kebayang baunya jika sudah bercampur keringat dan bau badan). Pekerjaan ini benar – benar menguras tenaga dan pikiran dengan hasil yang tentu saja jauh dari memuaskan.

Saya menghabiskan masa dua bulan terakhir sebelum kembali ke Makassar dengan ngekost di belakang gedung BRI Pusat Balikpapan dan disitu saya berkenalan dengan teman sebelah kamar. Saladin namanya, 24 tahun, masih lajang, orang Bandung, dan lulusan Teknik Arsitektur sebuah perguruan tinggi di Australia. Penampilannya sangat sederhana, tidak ada penampakan bahwa dia seorang yang terpelajar. Awal saya mengenalnya bahkan menganggapnya layaknya pengangguran, di kamar terus dan kalaupun dia keluar kamar hanya untuk mandi, makan, sapa teman kost yang lain dan main catur. Enjoy sekali menikmati hidup, seperti tidak ada beban.

Saya benar-benar dibuat penasaran, bagaimana dia membiayai hidupnya ? apakah dia orang kaya atau orangtuanya sangat kaya sehingga tidak perlu merasa bekerja, sedang biaya hidup di Balikpapan ketika itu sangat tinggi terlebih lagi tempat kost kami boleh dibilang kelas menengah yang tentu saja juga high cost, paling tidak untuk ukuran saya. Menurut beberapa teman kost lain, Si Saladin ini mempunyai tanah dan kebun yang dibelinya sendiri di beberapa daerah pedalaman Kaltim, dua kali sebulan dia hanya keluar untuk menengok tanah dan kebunnya tersebut. ”Luar Biasa”, pikir saya. Pekerjaan apa yang meraup hasil sedemikian besar hanya dengan tinggal ’berdebu’ di dalam kamar.

Suatu waktu, dia juga berkesempatan mengagumi saya karena dapat mengalahkannya main catur, bukan cuma sekali malah beberapa kali (tampona di’) dan sebagai hadiahnya dia berjanji akan mengajari saya komputer dan internet yang entah bagaimana caranya. Dia pun kemudian mengajak saya masuk di kamarnya, dan masya allah, dia memperlihatkan apa yang bisa dia kerjakan dalam kamar. Ketika itu ia memperlihatkan gambarnya di komputer, dengan program AutoCAD tentunya, sebuah arsitektur bangunan tingkat tinggi di jakarta. Sungguh desain yang mengesankan, malahan dia memperlihatkan pergerakan lift gedung itu dan apa yang terjadi dalam lift itu. ”hmm benar-benar hebat orang ini”, gumam saya. Dia ternyata selama ini mengerjakan pesanan arsitektur pembangunan gedung – gedung bertingkat tinggi dan alat komunikasinya, dua buah hape yang terletak disamping komputernya tersebut. Komputernya pun punya koneksi internet, web populer ketika itu adalah wasantara.net. Kamarnya itu menurut saya, ”high-tech room”.

Dalam usianya yang masih sangat muda selain smart dan kaya, orang ini juga sangat rendah hati dan tidak menonjolkan diri. Buktinya hapenya itu tidak pernah dibawa keluar kamar. Padahal ketika itu memiliki hape apalagi dua sekaligus adalah hal yang tidak lazim. Beda bener dengan sebangsa saya yang banyak bertebaran dimana – mana : mudah sombong, tinggi hati, gampang pamer, sudah itu miskin lagi, hahahaha ….

Saya tidak pernah melepaskan ingatan terhadap Saladin dan kamarnya ini, 10 tahun kemudian, 2008, saya mencoba membuat ruangan seperti kamarnya. Bukan sebagai arsitek, tapi sebagai penulis (hehehe … penulis lokalji kodong). Dua buah hape juga saya letakkan diatas meja dan dari dalam kamar itu saya mengerjakan pesanan buku penerbit dan buku – buku Pemda. Sekali sebulan saya ke Gowa melihat tanah kapling dan kebun yang saya beli dari hasil menulis buku. (hehehe…katiru-tirui di’). Komputer sayapun kini punya koneksi internet, web populer saat ini situs jejaring sosial semisal facebook. Akh ada yang berbeda dengan kamar Saladin, kalo kamarnya dia ”high-tech room”, kamar saya lebih mirip library room.

Bagiku, dia termasuk manusia langka, sukses dan matang di usia muda. Sukses karena berhasil di bidang ilmu dan pekerjaan yang digeluti dan matang karena berhasil menundukkan egonya, tidak terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan yang merusak. Sekarang, setelah 10 tahun berlalu, Si Saladin yang menginspirasiku tersebut tidak lagi kutahu keberadaannya. Mungkinkah sekarang dia online dan main facebook juga.

Semoga tulisan ini juga bisa menginspirasi pembaca lainnya untuk maju dan berkembang. (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: