Oleh: madidi75 | Mei 26, 2010

Kenangan Kota Sorong dan Ingatan terhadap H. Saleh

Di tahun 1997, saya pernah menginjakkan kaki dan menetap selama tiga bulan di Sorong, Irian Jaya (sekarang lebih populer disebut Papua) sebelum mencari kehidupan baru di Kaltim. Ketika itu saya berselisih paham dengan orang tua sehingga harus ’melarikan diri’ kesana. Saya pergi tanpa sepengetahuan orang tua dan keluarga lainnya. Maklum masih anak muda, kalau tidak dituruti keinginannya pasti mencak-mencak dan menyalahkan siapa saja yang berseberangan. Pokoknya, yang benar hanya diri sendiri, apapun alasannya.

Perjalanan kesana ditempuh selama delapan hari dengan menggunakan KM. Kambuna, dan setiba di Sorong (sekarang Kotif Sorong), saya  ngekost di belakang pasar sentralnya. Tempat kost lima petak itu milik orang Maros, ”akh saribattanga”, pikir saya. Kalau kita menginjakkan kaki pertama kali di kampungnya orang tentu harapan kita pertama adalah bagaimana kita bertemu atau menemukan orang yang seasal dengan kita dengan harapan akan tidak ada masalah dan syukur – syukur kalo ada urusan kita, mungkin dia bisa membantu, termasuk kemungkinan terburuk sekalipun. ”kelaparan”.

Barangkali ada diantara pembaca sekalian yang tidak percaya, bahwa saya kesana benar – benar nekad. Hanya bermodalkan tiket (tiket inipun disiapkan oleh sebuah perusahaan marketing di Makassar) dan uang di saku Rp 10.000,- itupun di pelabuhan berkurang Rp 3.000,- karena harus beli sikat gigi dan odol. Saya kira ini penting, ”apapun makanannya yang penting sudah makan harus sikat gigi” (maaf, waktu itu saya belum mengenal teh sosro).

Di hari kedua berada di Sorong, saya mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Pikiran saya, tentu akan menemukan orang – orang Irian yang tidak berbaju, dekil keriting, hitam legam dan berkoteka. Tapi, apa yang terjadi, masya allah, ketika saya masuk untuk pertama kalinya di pasar sentralnya, akh serasa tidak ada bedanya dengan kampung sendiri. Semua teriakan dan perbincangan tawar menawar di pasar itu berbahasa Bugis Makassar. Orang Segeri dan Maros paling banyak disana. Sampai tiga kali keliling pasar sentral itu tidak ada satupun bahasa Irian yang terdengar.

Disana, yang menguasai perekonomian lazim disebut orang BBM (Bugis, Buton, Makassar). Orang jawa transmigran lebih banyak di pedalaman dan hanya sesekali  ke pasar. Orang Cina sama sekali tidak direken disana dan jumlahnya pun sangat sedikit. Orang Menado ada juga disana, kata orang-orang pasar mereka lebih banyak berada di Lokalisasi nun jauh disana. saya tidak tahu nama daerahnya. (Maklum, tidak pernah kesana). Orang Irian sendiri, akh saya juga tidak tahu dimana tinggalnya, mungkin berpencar pada pinggiran hutan dan daerah pedalaman. Pernah mereka bersatu membawa sumpit, panah dan tombaknya. Kawanan primitif itu bermaksud menyerbu kawasan pasar dimana orang BBM ’berkuasa’, namun ketika orang Bugis Makassar mencabut badiknya, mereka lari tunggang langgang. Ada semacam cerita yang berkembang diantara mereka bahwa jika badik bugis makassar tercabut dari sarungnya, maka badik tersebut bisa terbang dan menyerang lawannya sendiri.

Selama tinggal disana, saya mengenal bahkan sangat akrab dengan seorang tokoh yang sangat disegani. Namanya H. Saleh dan beliau ternyata orang Segeri-Pangkep. Beliau orang yang rajin shalat, murah senyum, tawadhu’, dan banyak memfasilitasi keperluan ’Orang yang berjihad di jalan Allah’, suatu istilah yang sering dipakai komunitas  jamaah tabligh yang juga mendapat tempat berkembang disana. Tidak ada satupun orang di pasar sentral yang tidak mengenal pria berbadan tegap tinggi besar ini. Meski sudah cukup berumur saat saya bertemu dengannya, sisa – sisa keperkasaan sebagai tobarani itu masih ada. Ada pula yang menyebutnya mantan preman pasar, meski bekas ’daerah kekuasaannya’ bukan cuma pasar.

H. Saleh sendiri enggan menceritakan tentang dirinya. Dari para pengawalnyalah saya mendapatkan cerita tentang sepak terjangnya dimasa jahiliyahnya, meski ceritanya ini tak berhasil mengungkap masa – masa awal kedatangannya di Sorong dan berubahnya dia menjadi preman pasar. Diantara mantan pengawalnya itu, ada yang keberatan menyebut Saleh sebagai preman. ”Dia itu bukan preman, dia penjaga kita semua”, ungkap Baharuddin, orang Maros, pengawal setia Bos Saleh yang sekarang  lebih dikenal sebagai ustadz jamaah tabligh. ”Kalo di Mekkah ada nama Umar ibn Khattab yang sebelum masuk Islam sangat terkenal jahiliyahnya, maka di Sorong ada H. Saleh yang juga pernah terkenal kejahiliyahannya”.

Konon di masa jahilnya, kalau Bos Saleh ini kemana – mana ada sekitar 3 – 5 orang yang berjalan di belakangnya sebagai pengawalnya, meskipun ia tak minta dikawal. Penjahat lain akan keringat dingin kalo disebut nama Bos Saleh akan menghukumnya. Kalau dia keliling pasar, para pedagang tidak ada berani bicara, memandangnya atau melakukan tawar menawar dengan pembeli. Tidak ada tanah yang bisa dibebaskan pemerintah tanpa sepengetahuan dan persetujuan Bos Saleh ini. Dan karena dia sangat berkuasa, maka tentu saja juga kekayaannya tersebar di banyak tempat di Sorong. Orang – orang begitu segan kepadanya, apapun yang diinginkannya maka tinggal bilang saja. Orang – orang akan membawakannya.

Dia menguasai transaksi ikan di pelelangan, pengiriman hasil ladang dan kebun dari pedalaman, keluar masuknya barang di pelabuhan, dan ditangannya jualah segala keamanan sektor ekonomi perdagangan. Boleh dibilang, denyut nadi kehidupan ekonomi rakyat ada di tangannya.
Persentuhan dengan jamaah tabligh pulalah yang katanya merubah dirinya. Baru beberapa hari ikut jamaah tabligh, tiba – tiba ia  memiliki keinginan yang kuat sekali untuk naik haji. Para pengawalnya yang juga orang Bugis Makassar merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada Kota Sorong kalau Bos Saleh naik haji, karena itu para pengawalnya menyarankan agar kalau mau naik haji harus membawa serta semua keluarganya.

Benar saja, sepeninggalnya, banyak terjadi kebakaran di Kota Sorong, semua rumah Bos Saleh yang bertebaran di pelosok kota Sorong musnah dilahap si jago merah, termasuk rumah kontrakan dan rukonya.  Hanya satu rumahnya yang tersisa, sebuah ruko berlantai dua, tidak jauh dari Pasal sentral. Sekembalinya dari mekkah, Haji Saleh, (begitu panggilan akrab saya kepadanya), hanya tersenyum menyaksikan semua rumah dan rukonya musnah terbakar rata dengan tanah dan hanya tersisa satu untuknya, ”Barangkali rumah yang satu itulah yang bukan barang haram dan tidak menyimpan barang haram”, ujarnya. Itulah H. Saleh yang pernah Salah.

Kalau mau diulas sejarah kedatangan orang Bugis Makassar disana, tentu sudah sangat lama. Sewaktu di Sorong, saya sempatkan menghadiri pemakaman Hj. Lija, orang Maros, usianya 115 tahun. Beliau adalah nenek dari pemilik tempat kost saya. Orang Irian perkotaan yang juga sudah banyak menjadi pegawai di kantor – kantor pemerintah banyak menyimpan narasi tutur tentang persentuhan orang Bugis Makassar dengan orang Irian. Hal ini tentu sangat menarik untuk ditulis. Sayang, saya kesana hanya untuk ’jalan – jalan’, sekedar mencari tempat merenung dan proses pencarian  jati diri. (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: