Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Mengenal Saidi dengan Kebissuannya

Oleh : M Farid W Makkulau

SUATU waktu dua teman wartawan, seorang wartawan media lokal dan seorang lagi jurnalis TV mendatangi saya di kantor humas. Mereka mengungkapkan kebingungannya usai mewawancarai seorang tokoh budaya Pangkep. ”Kenapa ? memangnya dia bilang apa ?”, tanya saya. Serentak mereka menjawab bahwa wawancara dilakukannya selama dua jam dan tidak ada satupun kata – kata dari tokoh budaya itu yang dimengertinya. Mereka kemudian menyerahkan rekaman hasil wawancaranya, saya menyimpulkan bahwa adalah hal yang wajar—sama wajarnya dengan kebanyakan orang yang berbicara dengannya—jika mereka tidak mengerti kata – kata tokoh budaya itu. Orang yang dia maksudkan tak lain ialah Saidi (Puang Matoa Saidi), pemimpin tertinggi komunitas Bissu Dewatae’ di Segeri-Pangkep.

Sebagai Puang Matoa Bissu, Saidi bukan hanya kerap mencuri perhatian ketika melakukan atraksi seni tari maggiri bersama bissu lainnya, tetapi juga bicaranya kadang mengundang decak kagum, termasuk kedua teman wartawan tadi. Teman wartawan ini meskipun tidak mengerti apa yang diucapkan narasumbernya, tetapi setidaknya mereka sadar bahwa apa yang diungkapkan oleh Puang Matoa Bissu tersebut sarat dengan kearifan lokal, pengetahuan budaya yang langka serta filosofi hidup bugis masa lampau yang mengesankan. Dengan merekam ‘petuah sakti’ Saidi tersebut, kedua teman ini saya anggap telah ikut berjasa mendokumentasikan pustaka leluhurnya. Didalamnya banyak kita dengar secara mengesankan petuah bugis dalam bahasa bugis kuno, ‘Basa Ugi Galigo’.

Sebagai seorang Bissu dengan tradisi male transvestite-nya (lelaki yang berperan sebagai perempuan), bagi banyak orang awam biasanya sukar untuk percaya bahwa penampilan laki – laki dengan muka kasar dan berjanggut ini menjadi begitu lebay dan gemulai saat maggiri, mengiringi alunan musik palappasa. Tampak lembut sekaligus mengerikan menyaksikannya menusukkan keris ke lengan, badan, dan lehernya. Yang khas dari Puang Matoa ini adalah ’pamoro-moronya’ (suka marah), dia sama sekali tidak memberi ruang toleransi untuk dibantah oleh bissu lainnya, apalagi jika itu menyangkut kelengkapan upacara adat, seperti mattemmu taung, mappalili, dan lain sebagainya. Di luar itu, Saidi tampaknya seorang laki – laki yang sopan, santun, murah senyum, dan sangat menghargai orang.

Salah satu kelebihan komunitas bissu adalah kenyataan bahwa mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’(Bahasa orang langit). Bahasa inilah yang kadang bercampur dengan bahasa bugis pasaran dalam komunikasi sehari – hari. Memang, keberadaan bissu sebagai benang merah kesinambungan adat dan tradisi bugis kuno yang masih eksis di tanah bugis hingga dewasa ini. Bissu dalam upacara adat tidaklah berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari budaya atau tradisi yang berlaku bagi masyarakat pendukungnya. Itulah sebabnya, Bissu kadang juga memosisikan diri sebagai sanro’ atau pinati, perias pengantin, peramal (membaca tanda – tanda kehidupan seseorang yang datang kepadanya), atau sebagai traditional event organizer bagi kegiatan seni budaya pemerintah atau masyarakat yang punya hajatan.

Meski hidup bersahaja dengan kearifan lokal masa lalu, Saidi yang boleh dikatakan ’makhluk langka’ ini telah melanglang buana bersentuhan dengan dunia teater kontemporer arahan Robert Wilson. Sebagai seorang bissu yang bisa membaca La Galigo, Saidi terlibat sebagai pembaca sure’ Galigo dalam pementasan teater Galigo keliling dunia di Belanda, Italia, Amerika, Singapura, Perancis dan negara dunia lainnya. Disetiap pementasan teater tersebut, selalu mendapatkan standing aplaus sebagai bentuk apresiasi luar biasa dari masyarakat seni internasional. Sementara di dalam negeri sendiri, khususnya di kampungnya sendiri, lebih diposisikan sebagai sanro’ jika tidak ada kesibukan atau undangan pertunjukan dari pemerintah setempat.

Perbedaan bissu dengan waria kebanyakan adalah ilmu, bahasa dan kesaktian yang dimilikinya, selain cara berpenampilan dan berpakaian tentunya. Setiap waria yang telah menjadi bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa ke depan. Menurut Saidi, untuk menjadi bissu harus ada panggilan spiritual dan hal ini tidak bisa direkayasa, apalagi sampai berbohong. Sebagai Puang Matowa, dirinya akan mendapat isyarat akan adanya waria yang akan datang magang ke rumahnya. Sesama bissu juga mendapat semacam anugerah untuk dapat mengetahui basa torilangi, meski tidak ada yang mengajarkannya kepada mereka. Puang Lolo Bissu, Puang Upe mengaku mendapatkan tuntunan menjadi bissu sejak berusia 13 tahun. Sejak awal dia sudah menyadari kelainan yang dialaminya, dan dia mencoba untuk masuk seutuhnya ke wilayah itu. Makanya Puang Upe datang berguru kepada bissu – bissu senior ketika itu, termasuk diantaranya Puang Matoa Sanro Seke’.

Waria yang akan dilantik menjadi bissu, kata Saidi, diwajibkan berpuasa (appuasa) selama sepekan hingga empat puluh hari, setelah itu bernazar (mattinja’) untuk menjalani prosesi irebba. Seorang waria baru dikategorikan layak menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian puang matoa atau puang lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai bissu, ia harus menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan pada “Bola Arajang” (Rumah Pusaka).

Prosesi irebba ini, kata Saidi, bisa berlangsung biasanya 3 – 7 hari setelah itu dimandikan, dikafani, dan dibaringkan berdasarkan hari yang dinazarkan. Diatasnya digantung sebuah guci berisi air dan selama disemayamkan, calon bissu dianggap dan diperlakukan layaknya orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang menjalani prosesi irebba dan setelah melewati upacara sakral itu seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan. Seorang bissu diwajibkan untuk menjaga sikap, perilaku dan tutur katanya.

Dalam komunitas yang dipimpinnya, ketentuan pengunduran diri seorang bissu tidak terlalu jelas. Ikatan hanya terjadi pada kesakralan irreba yang merupakan kontrak spiritual mereka dengan para dewa. Kata Saidi, tak sedikit bissu yang melanggar ketentuan dari para dewa kemudian celaka, misalnya, bila mereka melakukan tindakan asusila. Bissu bisa bertahan hingga kini karena punya fungsi sosial yang terekam dalam masyarakat. Sejak zaman Bugis kuno hingga sekarang ini masih ada sebagian masyarakat Bugis yang percaya bissu dapat menghubungkannya dengan leluhur dan mengabulkan segala hasrat keinginan atau permohonannya. Akan tetapi tidak ada lagi perhatian dari pemerintah terhadap kelangsungan hidup mereka. Tidak ada lagi galung (sawah) arajang yang menjadi sumber kehidupan sepanjang tahun. Di Segeri, kata Saidi, sawah pusaka itu sudah beralih kepemilikan dan dijadikan tambak oleh mereka yang mengklaimnya sebagai tanah warisan.

Demikian yang dapat saya jelaskan. mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.🙂Puang Matoa Saidi

Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Siang dan Pangkep

Oleh : M. Farid W Makkulau

SAAT akan menulis tentang ’Siang’ ini, saya teringat akan seminar sehari ’Melacak Jejak Sejarah Kerajaan Siang” yang diselenggarakan oleh Yayasan Tomanurung bekerjasama dengan Pemkab setempat Oktober 2009 lalu sebagai pra seminar sebelum dilaksanakannya Seminar Nasional Sejarah Kerajaan Siang, yang rencananya akan dilaksanakan tahun 2010 ini. Seminar yang menghadirkan tiga pemakalah ini, Prof Dr Rasyid Asba, MA (Guru Besar Sejarah UNHAS), HM Taliu BA (Budayawan Pangkep) dan saya sendiri (Bukan Guru Besar dan bukan Budayawan), mendapatkan sambutan dan antusiasme yang luar biasa dari tokoh masyarakat, tokoh adat dan pemerhati budaya di Pangkep, bahkan ada sekelompok kecil masyarakat yang mengusulkan agar nama Kabupaten Pangkep dirubah menjadi Kabupaten Siang, salah satu alasannya, untuk mengembalikan kebesaran dan kemasyhuran nama Siang sebagai salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan.

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ’Siang’ ini ? Benarkah pernah ada kerajaan di jazirah Sulawesi Selatan yang bernama ’Kerajaan Siang’ ? Dimanakah letaknya, pusat kerajaannya, bekas – bekasnya dimana, tapak arkeologinya, dan bagaimana memori sosial masyarakat tentang Siang ini, narasi tutur atau lontaraq-nya ? Siapakah rajanya dan bagaimana cara memerintahnya ? Bagaimana perkembangan kerajaan tersebut serta kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya ? Bagaimana tradisi budaya dan kepercayaan masyarakatnya ? Bagaimana kejatuhannya serta apa warisan sejarah budaya yang ditinggalkannya, serta banyak lagi pertanyaan lainnya ? Pertanyaan – pertanyaan diatas ini belum sepenuhnya terjawab dalam seminar tersebut, banyak hal yang kabur setelah sekian lama sejarah kerajaan ini memang tidak terjamah tangan – tangan peneliti sejarah. Sejarah kerajaan Siang benar – benar tenggelam dan ditenggelamkan sehingga untuk melacaknya kembali dan membuat segala sesuatunya terang benderang memerlukan waktu penelitian yang lama, dengan biaya yang tentu saja sangat besar.

Saya pernah menyampaikan kepada dua mantan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Pangkep, Drs A Yatrieb Pare dan Drs A Nadir Ratu, MM bahwa kalau Sejarah Kerajaan Siang yang mau diungkap maka itu harus melibatkan ratusan peneliti sejarah dan budaya, dari dalam dan luar negeri dengan biaya bisa mencapai puluhan miliar. Karena itu, Pemkab setempat harus berani menggandeng dunia perguruan tinggi, lembaga donor atau yayasan pengetahuan dan penelitian ilmiah lainnya. Rekonstruksi sejarah tidak lagi sebatas ekskavasi tapak arkeologi dan pengumpulan sebanyak mungkin naskah tertulis dan narasi tutur, tapi bisa dilanjutkan ke tahap membangun kembali kota lama dan pelabuhan Siang. Proyek ini tentu bagaikan merajut mimpi masa silam, menemukan kembali Pusat kendali pemerintahan Siang dan menghubungkannya dengan pelabuhannya sampai di pesisir pantai baratnya tentu bukan pekerjaan mudah, apalagi sungai Sengkae’ yang dimaksud sudah mengalami pengendapan selama 800 tahun sebelum kejatuhan Kerajaan Siang. Akh, Disana ada begitu banyak harta karun terpendam dari Abad XIII – Abad XVI.

Apa yang anda bayangkan sekiranya megaproyek ini terwujud ? Saya sendiri membayangkan akan ada sungai (Sungai Siang) yang membentang sebelum perempatan Bungoro dari Pangkajene, ada jalanan yang terbangun di sepanjang pesisir pantai barat dari Bungoro sampai Segeri – Mandalle dan ini tentu saja akan menampakkan tiga hal : 1. Semakin mengukuhkan Pangkep sebagai bekas wilayah kerajaan maritim. Wilayah kepulauan dan Pulau – pulau Pangkep akan semakin nampak dari sepanjang jalan pesisir pantai barat ini, 2. Terbangunnya lokus – lokus ekonomi perniagaan terkait pemberdayaan masyarakat petambak dan nelayan di wilayah pesisir dan pulau, 3. Perubahan tata wilayah kota dan pesisir ini akan mengarahkan perhatian pengembangan ekonomi daerah lebih maksimal pada sektor kelautan dan perikanan.

Dari segi pengembangan ilmu pengetahuan, mega proyek ini setidaknya selain mengungkap hal – hal fenomenal tentang sejarah Kerajaan Siang, juga setidaknya dapat membuka tabir tentang sejarah kedatangan bangsa melayu ke jazirah pantai barat Sulawesi Selatan, dan itu juga berarti sejarah kedatangan Islam di Sulawesi Selatan. Jauh sebelum kedatangan Datu Tallua (Dato ri Tiro, Dato’ ri Bandang dan Dato’ Patimang) dan islamisasi yang dilakukan Kerajaan Gowa, para pedagang melayu telah membaur dengan penduduk pribumi di sepanjang pesisir pantai barat Pelabuhan Siang. Catatan pelaut Portugis, Antonio de Payva sekitar tahun 1542 menguatkan tentang hal ini. Kedatangan para pedagang melayu di Siang sudah ada sekitar 50 tahun sebelum kedatangan para pelaut Portugis dan gelombang kedatangan orang melayu tersebut semakin gencar paska jatuhnya Kerajaan Malaka di tangan Portugis pada tahun 1511.

***

Dalam catatan ini, saya tidak akan menguraikan sejarah singkat Kerajaan Siang, karena penjelasan mengenai hal tersebut sudah dapat ditemukan di buku, diantaranya : Sejarah Kerajaan Siang (Stensilan, Taliu BA, 1997), Kerajaan Siang Kuna – Sumber Tutur, Teks dan Tapak Arkeologi (Fadillah, et.al, 2000), Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Makkulau, 2005 dan 2007). Penjelasan tiga halaman mengenai Kerajaan Siang sempat disinggung juga Andaya (edisi terjemahan, 2004). Meskipun informasi mengenai Kerajaan Siang belum refresentatif dituangkan dalam bentuk buku, namun untuk menghindari pengulangan penjelasan, catatan ini hanya dimaksudkan untuk menjawab tuntutan sebagian kecil masyarakat yang ingin menjadikan nama Siang sebagai nama salah satu kabupaten, menggantikan nama Kabupaten Pangkep.

Menurut saya, menjadikan Siang sebagai nama kabupaten, ”Kabupaten Siang” sebagai pengganti nama ”Kabupaten Pangkep” bukanlah upaya yang tepat untuk ’membesarkan’ nama Siang, tapi upaya tersebut malahan hanya ’mengecilkan’ nama dan pengaruh Siang. Alasan Pertama, dari segi kharisma dan wilayah pemerintahannya. Kabupaten Pangkep saat ini hanya merupakan salah satu kabupaten dalam lingkup Propinsi Sulawesi Selatan. Bandingkan dengan Kerajaan Siang yang pada masa kejayaannya merupakan kerajaan makassar terbesar di sebelah barat jazirah Sulawesi Selatan sedang Kerajaan Ussu (Luwu) adalah kerajaan bugis terbesar di sebelah timur. Perbatasan pengaruh antara keduanya adalah Sidenreng. (Andaya, 2004 ; Makkulau, 2007).

Penemuan arkeologi berharga di bekas wilayah Siang kelihatannya lebih memperkuat asumsi bahwa kerajaan ini adalah mungkin kerajaan besar di pantai barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa dan Tallo (Pelras, 1973 : 54 dalam Andaya, 2004 : 26). Dari catatan pelaut Portugis, Antonio de Payva pada tahun 1542 dan 1544, saat menyinggahi Siang mengungkapkan bahwa Gowa adalah sebuah kota yang besar ”yang dulunya merupakan kerajaan bawahan Siang, namun tidak lagi begitu” (Pelras, 1873 : 47 dalam Andaya, 2004 : 26). Pengamat Portugis lainnya, Manuel Pinto, memperkirakan pada tahun 1545, Siang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa. Penguasanya sangat yakin terhadap sumber – sumber daya yang dimiliki oleh negaranya sehingga dia menawarkan untuk menyuplai seluruh kebutuhan pangan Kerajaan Malaka (Pelras, 1973 : 53 dalam Andaya : 2004, 26).

Argumentasi lainnya yang dikemukakan para pengusul pengganti nama Kabupaten Pangkep menjadi Kabupaten Siang adalah tidak terwakilinya nama ’Pangkep’ tersebut dengan keseluruhan wilayah kabupaten ini. Menurutnya kata ’Pangkep’ (Pangkajene dan Kepulauan) hanya mewakili kecamatan Pangkajene dan wilayah kepulauan (3 kecamatan pulau), yang berarti hanya melingkupi 4 wilayah kecamatan, sementara kecamatan lainnya seperti : Bungoro, Labakkang, Balocci, Ma’rang, Segeri, Mandalle, Minasate’ne dan Tondong Tallasa, tidak terwakili. Argumentasi ini saya anggap sebagai kekeliruan dalam membaca fakta sejarah.

Wilayah Pangkajene merupakan salah satu wilayah Onderafdeeling atau Locale Ressorten yang dibentuk berdasarkan Undang – Undang Desentralisasi 1903 pada masa pemerintahan Hindia Belanda (Decentralisation Besluit 1905, S. 1905 : 137 dalam Makkulau, 2007). Jadi, Pangkajene yang dimaksud adalah Onderafdeeling Pangkajene yang sejak masa pemerintahan Hindia Belanda sebagaimana diatur dalam Rechts – gemeenschappen Onderafdeeling Pangkajene (Staadsblaad 1916 No. 352) membawahi lima district adat-gemeenschap yaitu Pangkajene sendiri, Balocci, Labakkang, Ma’rang dan Segeri. Kemudian berdasarkan surat Gouverneur van Celebes tertanggal 11 Mei 1918 No. 86/XIX, adat-gemeenschap Pangkajene dipecah menjadi dua, yaitu gemeenschap Pangkajene dan Bungoro, lalu disusul lagi surat Gouverneur van Celebes tertanggal 13 Juli 1918 No. 124/XIX, dimana adat gemeenschap Segeri dipecah menjadi gemeenschap Segeri dan Mandalle. Dengan demikian, sejak saat itu Onderafdeeling Pangkajene terdiri atas tujuh wilayah adat gemeenschap (pemerintahan kekaraengan), yaitu : Pangkajene, Bungoro, Balocci, Labakkang, Ma’rang, Segeri dan Mandalle. (Makkulau, 2008).

Pulau – pulau Pangkep sendiri pada masa pemerintahan Hindia Belanda merupakan bagian dari Stadsgemeente Makassar yang dikepalai oleh Kepala District Makassar yang wilayahnya meliputi 57 pulau Spermonde (inilah yang sekarang dikenal bernama Liukang Tupabbiring), 8 pulau kalu-kalukuang group (inilah yang sekarang dikenal bernama Liukang Kalmas), dan 52 pulau postelion dan poternoster (inilah yang sekarang dikenal bernama Liukang Tangaya). Dengan keluarnya Staadsblad 1946 / 17, dibentuklah swapraja baru (neo-zelfsbestuur) dari daerah – daerah bekas rechtstreeks bestuursgebeid hingga wilayah kepulauan mulai dipisah dari Stadsgemeente Makassar. Paska kemerdekaan RI, lahirlah UU Darurat No. 2 Tahun 1957 dimana Daerah Makassar dipecah menjadi tiga Daerah : Gowa, Makassar dan Jeneponto. Daerah Makassar membawahi wilayah : Onderafdeeling Pulau-pulau, Onderafdeeling Maros, dan Onderafdeeling Pangkajene dengan Kepala Daerah Andi Tjatjo. (Makkulau, 2008).

Dua tahun kemudian, lahirlah UU No. 29 Tahun 1959 yang berdampak pula pada penetapan Pangkajene sebagai salah satu Daerah Otonom Tingkat II digabung dengan bekas wilayah onderafdeeling pulau – pulau sehingga menjadi Kabupaten Dati II Pangkajene dan Kepulauan, terdiri atas 9 kecamatan (Pangkajene, Bungoro, Balocci, Labakkang, Ma’rang, Segeri Mandalle, Liukang Tupabbiring, Liukang Kalmas, dan Liukang Tangaya). Masuknya tiga wilayah kepulauan dalam wilayah Pangkep didasarkan pada pertimbangan kewilayahan, faktor sejarah, kedekatan etnis dan hubungan emosional masyarakatnya.

Kecamatan Minasate’ne merupakan kecamatan baru, hasil pemekaran dari Kecamatan Pangkajene, begitu pula dengan Tondong Tallasa, merupakan kecamatan baru hasil pemekaran dari Kecamatan Balocci, sebagaimana halnya dengan Mandalle yang pernah disatukan dengan Segeri dimekarkan kembali menjadi satu kecamatan tersendiri berdasarkan Perda No. 13 Tahun 2000, sedangkan Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara merupakan pemekaran dari Kecamatan Liukang Tupabbiring pada tahun 2008 lalu, Ketiga kecamatan ini dimekarkan lebih kepada pendekatan pelayanan, agar masyarakat lebih mudah dan cepat mendapatkan akses pelayanan publik. (Makkulau, 2008).

Demikian yang dapat saya jelaskan. Mohon tanggapan dan masukannya. Mariki’ di.

Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Manu’ dalam Sejarah dan Budaya Sulsel

Massaung Manu'Oleh : M. Farid W Makkulau

Kata ini, Manu’ (Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Jika mendapatkan pembahasan yang berimbang maka kata ini bisa jadi sangat mewarnai perjalanan sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Ketika hal ini saya sampaikan kepada lima mahasiswa sejarah UNHAS yang datang bertamu ke rumah, mereka malahan tertawa seakan tidak percaya terhadap apa yang baru saja didengarnya. Mereka seakan lupa bahwa Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur” dan lambang universitas tempat mereka kuliah adalah gambar ayam.

Masyarakat Bugis Makassar selain menjadikan ayam sebagai ternak peliharaan juga menjadikannya sebagai hewan aduan. Karena keakraban dengan ayam ini dengan senantiasa memperhatikan tanda – tanda fisik, bulu dan bunyi kokoknya, orang Bugis Makassar memiliki kepercayaan, firasat, alamat atau pertanda dari ayam ini : 1) Bila ayam betina beradu dibawah kolong rumah, maka itu pertanda bahwa yang empunya rumah akan kedatangan tamu, 2) Bila ayam betina berkotek di waktu malam, maka itu pertanda akan ada kerabat yang akan meninggal. Ayam ini disebut “Manu’ patula-tula” dan karenanya harus disembelih, tidak boleh dibiarkan bertelur karena dapat membawa sial atau celaka. 3) Bila ayam memakai jambul (simpolong), maka itu pertanda ayam tersebut tidak baik dipelihara karena bisa membawa sial, 4) Bila ayam berbulu kelabu (kawu) maka ayam tersebut juga tidak baik untuk dipelihara karena dianggap sorokau (ayam pembawa sial), dan 5) Bila ayam jantan berkokok seperti menyuarakan ‘pelihara aku’ (makkau) maka ayam tersebut baik untuk dipelihara karena dianggap pembawa rezeki.

Dalam kitab La Galigo diceritakan bahwa tokoh utama dalam epik mitik itu, Sawerigading, kesukaannya menyabung ayam. Dahulu, orang tidak disebut pemberani (to-barani) jika tidak memiliki kebiasaan minum arak (angnginung ballo), judi (abbotoro’), dan massaung manu’ (adu ayam), dan untuk menyatakan keberanian orang itu, biasanya dibandingkan atau diasosiasikan dengan ayam jantan paling berani di kampungnya (di negerinya), seperti “Buleng – bulengna Mangasa, Korona Mannongkoki, Barumbunna Pa’la’lakkang, Buluarana Teko, Campagana Ilagaruda (Galesong), Bakka Lolona Sawitto, dan lain sebagainya. Dan hal sangat penting yang belum banyak diungkap dalam buku sejarah adalah fakta bahwa awal konflik dan perang antara dua negara adikuasa, penguasa semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dan Bone diawali dengan “Massaung Manu”. (Manu Bakkana Bone Vs Jangang Ejana Gowa).

***

Pada tahun 1562, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara ’massaung manu’. Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam tersebut. Taruhan Raja Gowa 100 katie emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Sabung ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma. Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).

Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’ oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya, tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo, Teko, serta negeri Tellu Limpoe.

Peristiwa itu menunjukkan betapa besar pengaruh psikologis ’Massaung Manu’ tersebut sehingga menjadi pangkal konflik dan perang Bone Vs Gowa. Bergabungnya Tellu Limpoe menjadi wanua palili Bone yang sebelumnya berstatus wanua palili Kerajaan Gowa dijadikan dalih oleh Gowa melancarkan serangan militer pertama ke Bone dalam tahun 1562. Tahun berikutnya, serangan militer kedua menyusul dengan jumlah pasukan yang lebih besar, Serangan militer ketiga dan keempat dilancarkan lagi dalam tahun 1565. Raja Gowa XI, I Tajibarani Daeng Marumpa Karaeng Data Tunibata yang hanya naik takhta selama 20 hari ini tewas dalam peperangan ini. Dalam setiap serangan militer Gowa ke Bone, Gowa tidak pernah menaklukkan betul Bone sehingga selalu diakhiri dengan perjanjian Perdamaian, namun Gowa selalu mengingkari perjanjian itu dan tetap menunggu kesempatan yang baik untuk menaklukkan Bone. Dalam tahun 1575, dilancarkanlah serangan militer kelima sampai akhirnya Bone benar – benar dikalahkan dan ditaklukkan dimasa pemerintahan Raja Gowa I Mangerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna dalam tahun 1611.

Sejarah konflik dan Perang Gowa Vs Bone ini menarik dicermati karena diakhir penaklukan Bone oleh Gowa, alasan perang yang dipakai Sultan Alauddin adalah alasan ”Bundu Kasallangan” atau ”Musu Sellenge”, yaitu memerangi suatu kerajaan supaya masuk Islam. Sementara dalam istana Bone, beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Gowa merupakan satu pelanggaran kedaulatan negara atas negara lain sehingga setiap peperangan harus dibalas dengan peperangan. Di belakang hari, sebab inilah yang memicu kebangkitan semangat Arung Palakka untuk memerdekan Bone (Negeri Bugis) atas penjajahan Gowa, terlebih lagi setelah pengerahan sekitar 40.000 tenaga kerja paksa orang Bone – Soppeng membangun Benteng – benteng Makassar. (Makkulau, 2008).

***

Ayam adalah simbol kejantanan. Ayam merupakan hewan simbolis sekaligus pertaruhan gengsi laki – laki. Mungkin jika diambilkan perumpamaan, sekarang ini tidak disebut seseorang itu laki – laki jika tidak menggemari bola dan kalau dahulu, tidak disebut seseorang itu laki – laki jika tidak menggemari sabung ayam. Hanya saja, kini terjadi pergeseran cara pandang, apa – apa dijudikan. Sabung ayam dijudikan, Sepak bola dijudikan. Maka wajar saja jika sabung ayam dan sepakbola kini menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Padahal dulunya, sabung ayam malah menjadi tontonan yang sangat menarik, termasuk para bangsawan dan raja.

Adalah Ustadz Hattab, mantan pegawai Departemen Agama Pangkep yang setiap saat menyempatkan singgah di rumah usai mengantar isterinya mengajar di suatu sekolah yang juga tak jauh dari rumah, mengungkapkan bahwa sabung ayam sebenarnya—sebagaimana juga ma’barazanji—merupakan sarana bersosialisasi untuk mengenal banyak orang dan banyak kampung. Mantan penyabung ayam ini mengakui bahwa dirinya mengenal banyak orang dan sering diundang keluar masuk kampong karena ayam sabungannya yang terkenal sanggup mematikan ayam sabungan lainnya hanya dengan satu kali lompatan.

Tradisi sabung ayam ternyata bukan hanya milik kebudayaan Bugis Makassar. Di Toraja Sa’dang, tradisi sabung ayam dikenal dengan nama paramisi, biasanya digelar sebagai rangkaian masa duka dalam sebuah keluarga. Bagi orang Toraja, ayam adalah simbol langit. Di Kajang, ada tradisi yang disebut pabitte passapu’, yaitu mengadu ikat kepala yang telah disimpul seperti ayam. Ikat kepala itu akan berkelahi layaknya ayam. Hal ini tentu saja terjadi karena adanya kekuatan mistis dan supranatural untuk menggerakkan ikat kepala itu menjadi ’hidup’.

Demikian yang dapat saya jelaskan. Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.

Sumber :
Makkulau, M. Farid W. Jangang Ejana Gowa Vs Manu Bakkana Bone, YKAM, Makassar : 2008.

Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Waria dan Umpatan ‘Sundala’

Kontes Kecantikan WariaDalam perjalanan pulang malam dari Makassar ke Pangkep, karena kelelahan dan ngantuk, saya biasanya memanfaatkan waktu dalam perjalanan itu untuk tidur. Hal ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak lama mengenal angkutan umum yang namanya pete – pete, khususnya kalau dalam perjalanan jauh. Bagi saya, tidur di pete – pete merupakan satu kenikmatan tersendiri, semilir angin yang tertiup lewat jendela mobil berkapasitas penumpang 11 orang itu tak kalah nikmat dibanding kalau kita nginap di kamar hotel ber-AC. Karena ingin menikmati tidur, biasanya saya nitip pesan ke pak sopir agar dibangunkan satu jam kemudiannya. Tapi suara – suara gaduh dalam perjalanan malam akhir pekan kemarin itu benar – benar membuat saya tidak nyaman. Suara – suara sundala’ yang memekakkan telinga.

Ternyata saya satu pete – pete dengan tiga orang bencong (waria). Ketiganya terlibat seru pembicaraan mengenai ’pacar’ masing – masing. Diantara mereka tidak ada yang mau mengalah, mereka satu sama lain membanggakan pacarnya dan pada saat yang bersamaan, merekapun satu sama lain menjelekkan pacar temannya. Perjalanan malam itu benar – benar tidak mengenakkan, terdesak oleh himpitan badan penumpang lainnya, disaat yang sama pembicaraan trio bencong itu semakin memanas, sampai akhirnya salah seorang diantaranya mengatakan, ”ide’e kabbulamma, sundala, tanja’nae”. Teman yang satunya menimpali, ”apa tong kau, ana’ sundala, bencong ?”, Yang terakhir mengatakan, ”ide’e galle, para bencong jaki !”.

Saya terhenyak, terpukau oleh kosa kata yang digunakan trio bencong itu. Boleh dikata hampir sepuluh tahun terakhir ini, kata – kata seperti kabbulamma dan sundala barusan malam itu saya dengar lagi. Semakin malam larut, semakin banyak kata – kata kotor yang terdengar dari mulut ketiganya dan sayapun semakin takjub, karena kata – kata seperti io, i-kau, tilaso, kabbulampe, sundala, callege-lege, kabulator begitu familiar di kalangan mereka. Apakah mereka punya semacam kesepakatan internal menyangkut bahasa, kebiasaan, atau perilakunya untuk membedakan komunitas para waria ini ?

***

Tata Krama adalah kebiasaan, merupakan tata cara yang lahir dari hubungan antar manusia, baik menyangkut bahasa (kana-kana/pau-pau) ataupun perilaku (panggaukang), yang disepakati bersama, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dimana dinilai baik, sopan, santun untuk dipraktekkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Budaya (Culture) yang dianut dan dikembangkan itu mengandung sejumlah sistem nilai atau sistem adat. Sehingga semakin kokoh entitas budaya masyarakat, semakin berkemampuan dan berkompetensi pulalah masyarakat tersebut dalam mengembangkan kualitas kehidupan pribadi serta kelompoknya.

Kita hidup dalam kurun waktu yang ditandai dengan aneka ragam perubahan yang sangat cepat dalam berbagai segi kehidupan. Seiring dengan perubahan itu, terjadi pula perubahan cara memandang dan menafsirkan norma-norma kehidupan. Apa yang dulu dianggap “aksioma, tabu, pantangan, kasipalli” kini dipertanyakan, didiskusikan, dan dibahas. Apa yang dulu dibungkus rapat-rapat kini disingkap lebar-lebar. Tabu menjadi tabuhan. Tabuhan menjadi tabu, larangan menjadi anjuran. Anjuran menjadi larangan. Tahap serba tak pasti ini ditandai oleh gesekan dan benturan berbagai norma, sangat terasa dalam menerapkan kaidah sopan santun. Yang sopan dan yang santun dalam berpakaian, makan, berjalan dan berbicara serta bergaul setidak-tidaknya menjadi kurang jelas. Dahulu pada banyak masyarakat, kalau orang tua memarahi anaknya, sang anak bukan saja tak boleh mengajukan keberatan atau membantah, menatap mata orang tuapun dianggap keterlaluan.

Tata Krama dan Etika Sosial (Social Ethics and Order) bagi orang Bugis Makassar penting diajarkan kepada anak dengan maksud untuk melatih kehalusan bahasa sekaligus kehalusan budi pekerti anaknya. Mereka takut dan khawatir anaknya akan berbuat aib atau mempermalukan keluarganya (appakasiri) hanya karena tidak tahu berbahasa yang baik menurut adat. Jika terjadi demikian, sering kita mendengar umpatan, ‘tau tena pangngadakkangna’ (Bugis : de’ gaga pangngaderrengna) atau ‘tau-kurang ajara’. Hal ini tentu bukan saja berdampak pada sang anak, tetapi juga pada orang tuanya, yang berarti masyarakat bisa menilai bahwa orang tua anak tersebut kurang memberikan nasehat dan pelajaran tentang tata krama dan sopan santun.

Dalam hubungannya dengan kasus yang saya alami diatas, nampaknya di saat masyarakat umum sudah jengah dan bosan dengan pemakaian kata – kata yang tidak pantas seperi ”sundala, tilaso, kabbulamma, kabbulampe” ternyata ada satu komunitas yang justru ’melestarikan’ kosa kata tersebut. Para waria ini semakin hari semakin banyak, semakin banyak kata – kata kotornya serta semakin menonjolkan aspek sensualitas dan seksualitasnya, berorganisasi pula. Lucunya lagi, kitapun semakin dibuat bergantung dengan kehadirannya : merias pengantin, menata lamming (pelaminan), bahkan untuk sekedar cukur rambut sekalipun.

Dahulu kehadiran seorang calabai atau bencong dapat dianggap sebagai aib masyarakat sehingga harus diusir atau diasingkan, paling tidak mereka tidak dibiarkan berkeliaran keluar masuk kampung. Sekarang malah mendapatkan posisi ’dibutuhkan’ dalam masyarakat. Mengkhawatirkannya karena kata – kata sundala’ khas mereka bukanlah kata eksklusif, tapi kata yang setiap saat terlontar begitu saja tanpa pandang situasi dan kondisi. Banyak anak sekolah yang ikutan terjalari oleh kata – kata mereka, malahan bergaul dengan akrab dengan komunitas galle ini. Pemerintahpun ikut latah dengan memfasilitasi berbagai lomba dan kontes waria yang dilaksanakan.

Nampaknya, ”kalo ndak sundala’, ndak bencong banget gitu lho”. Banyak teman yang awalnya ternganga mendengar penjelasan saya mengenai ’kemajuan’ para waria ini. Salah seorang teman mahasiswa S2 yang tertarik meneliti mengenai hal ini setelah saya ceritakan bahasa, perilaku dan kebiasaan komunitas waria ini memberikan ’solusi brilian’, ”Bagaimana kalo kita dorong pemerintah daerah melalui Pol PP-nya dan elemen masyarakat terdidik untuk melaksanakan ’Operasi Bencong’ atau ’Sweeping Waria’, karena kalau mereka sudah banyak sekali dan mereka bebas mengumbar seks sesama jenis, ini akan mengundang datangnya azab Allah ?”. Mendengar saran teman tersebut, giliran saya yang ternganga dan tak dapat berkata apa – apa. Segitunyakah ??

Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’. Mariki di’. (*)

Suatu hari saya diperhadapkan pada kejadian memalukan saat menghadiri undangan malam paccing pengantin anak tetangga. Ketika itu sang imam kampung yang biasa memimpin barzanji berhalangan hadir, sehingga kitab barazanji-pun yang sekiranya dapat dibaca bergiliran di malam paccing itu juga tidak ada. Karena terdesak waktu dan undangan sudah banyak yang hadir, akhirnya kepada hadirin saya mengungkapkan, “engkama kitta’ barazanji koe bolae”. Memang enam bulan lalu saya menyempatkan diri membeli buku Kitab Barazanji di TB Thoha Putera depan Kampus UIN Alauddin dan karena kesibukan, kitab barazanji tersebut belum sempat saya buka dan periksa isinya, apalagi membacanya.

Karena kitabnya baru dan belum pernah tersentuh, saat kitab tersebut saya sodorkan ke pembantu imam, dia kesulitan mendapatkan halaman bacaan awal pembukaan barazanji. Nampaknya dia juga kurang familiar dengan bacaan barzanji. Saat itu, hampir semua jamaah dan undangan yang hadir bersamaan menoleh ke saya meminta halaman bacaan awal pembukaan barazanji. Ruangan itu langsung gaduh saat saya menjawab, “de’to ussengi iya”. Apa yang saya alami merupakan satu gejala hilangnya atau semakin berkurangnya penerus pembaca barzanji. Padahal ma’barazanji merupakan satu rangkaian acara dalam setiap upacara adat ‘siklus hidup’ dalam masyarakat Bugis Makassar.

***

Benang merah antara agama dan budaya itu tentu sudah lama menorehkan sejumlah masalah, baik dari segi subtansinya, maupun tanggapan yang berkembang di tengah masyarakat. Diantara sekian banyak perdebatan itu antara lain menyangkut pembacaan barzanji (mabbarazanji), perayaan maulid (ammaudhu’) dengan segala baku’ dan kanre maudhu’-nya, asyura (ajjepe syura), upacara-upacara adat dan tradisi yang berkaitan dengan perayaan siklus hidup seperti : alahere, aqeqah, appatamma, khitanan adat (assunna), appabunting, dan ammateang. Begitu pula upacara adat lainnya seperti menre bola, mappalili, mappadendang, mattemmu taung), ziarah kubur (assiara ri kobbang), apparuru lopi atau ammocci biseang, appanaung, appanaik, dan lain sebagainya. Setiap upacara adat dan tradisi tersebut selalu disertai dengan pembacaan kitab barzanji.

Hal ini terjadi pula pada Perayaan Hari – hari besar islam dengan nuansa dan warna sinkretisme, seperti perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dengan rentetan acaranya sebagai berikut : appakarammula, ammone baku, ammode’ baku, angngantara kanre maudu’, pannarimang kanre maudu’, a’rate (assikkiri’), pammacang salawa, pattoanang, pabbageang kanre maudu. Perayaan hari-hari besar islam yang juga menghadirkan pembacaan “zikkiri – barazanji”, selain Maulid Nabi adalah : Isra Mi’raj, Sepuluh Muharram, bahkan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masih banyak masyarakat menyelenggarakan barzanji atau mengundang “pabaca doang” (Pembaca Doa, biasanya imam kampung atau anrong guru) ke rumahnya untuk membacakan segala jenis dan rupa makanan, yang diiringi bau asap kemenyan. Dalam pandangan agama (Islam), hal tersebut bisa dianggap musyrik (menyekutukan Allah) atau “bid’ah” (tidak ada dalam syariat Islam/tidak ada tuntunannya sebagaimana yang pernah dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW).

Seperti diketahui, Agama Islam masuk di Sulawesi Selatan, dengan cara yang sangat santun terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat Bugis Makassar. Bukti nyata dari sikap kesantunan Islam terhadap budaya dan tradisi Bugis Makassar dapat kita lihat dalam tradisi – tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini. Seperti mengganti pembacaan kitab La Galigo dengan tradisi pembacaan barzanji, sebuah kitab yang berisi sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, dalam setiap hajatan dan acara, doa – doa selamatan, bahkan ketika membeli kendaraan baru, dan lain sebagainya. Tradisi Mabbarazanji ini merupakan bukti terjadinya asimilasi damai dengan budaya Bugis Makassar.

Dengan semakin berkurangnya orang yang bisa membaca kitab barzanji, apakah ini merupakan awal kehancuran atau hilangnya tradisi masyarakat Bugis Makassar terkait perayaan atau penyelenggaraan upacara siklus hidup (alahere, aqeqah, appatamma, khitanan adat (assunna), appabunting, dan ammateang), ataukah akan muncul tradisi baru, tradisi lama tanpa pembacaan kitab barzanji, ataukah dengan gejala ini, merupakan suatu awal yang bagus bagi masyarakat islam bugis makassar untuk meninggalkan dan menanggalkan tradisi budayanya yang ‘kurang islami’, dan apakah benar membaca kitab barzanji merupakan suatu hal yang bid’ah dalam pandangan ajaran Islam.

Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.

Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Annyala dan Proses Abbajik

Annyala dalam terminologi Makassar diartikan sebagai ‘kebersalahan’ atau dalam bahasa gaulnya dapat diartikan ‘nakal’. Namun “Annyala” yang ingin penulis jelaskan disini bukanlah Annyala dalam pengertian umum, tapi Annyala dalam konteks perkawinan atau kebersalahan dalam perkawinan. Biasa kita mendengar ucapan, “anjo bura’ne annyala” atau “anjo baine annyala”, maka yang dimaksudkan dalam kalimat tersebut adalah kebersalahan dalam konteks perkawinan. Karena itu, biasanya pula orang tua kita yang mendengar pernyataan seperti itu, tidak lantas meneruskan pertanyaannya karena sangat sadar bahwa kalimat tersebut didalamnya mengandung konsekuensi rasa malu dan taruhan harga diri.

Proses perkawinan yang mengandung dampak rasa malu dan taruhan harga diri adalah proses perkawinan yang terjadi karena ‘nipakatianang’ (hamil sebelum nikah). Keadaan demikian ini dapat menimbulkan dua kemungkinan, yaitu (1) Kawin secara adat atau (2) Annyala. Kawin secara adat terlaksana apabila kehamilan siperempuan (tau-nipakatiananga) belum tersebar, baru diketahui ibu dan kerabat ibu yang terdekat sehingga mereka ini secara rahasia (tidak diketahui oleh tu-masirik perempuan yang hamil) menghubungi keluarga tu-mappakasiri’ agar dalam waktu yang singkat perkawinan dapat dilangsungkan melalui prosedur yang biasa. Kedua belah pihak berusaha menutupi dan melindungi rahasia demi nama baik kedua keluarga.

Bilamana perkawinan secara adat tidak terlaksana, maka terjadilah prosedur yang sama dengan Annyala, dimana keadaan perempuan telah menyedihkan karena silelaki tidak bertanggung jawab / menghilang. Si perempuan yang berlindung kepada imam atau kadhi dinikahkan dengan seorang lelaki yang niatnya darurat. Lelaki yang menikahi seorang perempuan karena terlebih dahulu hamil yang sebelumnya tidak ada hubungan disebut kawin pattongkok sirik (=kawin penutup malu) si perempuan yang bernasib sial ini oleh orang tuanya / kerabatnya “nimateanmi”.

Dalam pandangan adat, anak yang dilahirkannya kelak disebut anak bule (anak haram jadah). Anak ini bila hidup sampai dewasa sangat sulit kedudukannya dalam masyarakat karena seolah-olah dialah yang harus menanggung segala kesalahan dan dosa orang tuanya. Hal ini berbeda dalam pandangan agama, bahwa si anak tidaklah berdosa sama sekali, tidak pula mewarisi dosa orang tuanya, setiap anak terlahir dalam keadaan suci, orang tuanyalah sendiri yang menanggung dosa yang telah diperbuatnya.

Dalam pandangan adat, Annyala (kebersalahan dalam perkawinan) dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu : Silariang, Nilariang, dan Erangkale. Karena namanya saja “Annyala”, maka ketiganya tentu saja tidak ada bagusnya, kesemuanya mempermalukan diri dan keluarga, ketiganya membawa dampak rasa malu serta konsekuensi taruhan harga diri (siri’). Tindakan Annyala ini sebenarnya dapat diakhiri dengan proses berbaikan, namanya “Abbajik” atau “Appala Bajik”, namun dalam konteks kekinian, bagaimana sebenarnya kita melihatnya mengingat sudah bebasnya proses pergaulan dan komunikasi serta telah ditinggalkannya adat, bukan saja oleh anak tapi juga oleh orang-orang tua kita.

(1) Silariang (Sama – sama lari)

Yang dimaksud dengan Silariang ialah dua orang yang saling mencintai, sama – sama lari dari keluarganya. Pada masyarakat Bugis Makassar, kawin lari (silariang) merupakan hal yang tidak direstui bahkan menjadi aib dalam masyarakat. Terjadinya kawin lari biasanya dikarenakan uang belanja perkawinan (mas kawin/sunrang) yang ditentukan oleh pihak keluarga si gadis terlampau tinggi, bisa juga terjadi karena keluarga si gadis tidak menyetujui pihak keluarga laki – laki, baik calon menantunya maupun calon besannya. Terkait dengan uang naik (doe nipanaik) atau uang belanja (doe balanja) yang tinggi, biasanya memang keluarga si gadis dalam masyarakat bugis makassar menempuh jalan demikian untuk menolak pinangan secara halus.

(2). Nilariang (Dibawa Lari)

Nilariang adalah proses Annyala dimana si gadis dilarikan oleh si pemuda atau oleh si pemuda dan keluarganya. Karena namanya Nilariang, maka faktanya dilapangan bisa beragam. Bisa saja perbuatan si pemuda melarikan anak gadisnya orang tanpa sepengetahuan orang tuanya, karena bisa juga terjadi orang tua dan keluarga si pemuda tidak merestui tindakan anaknya melarikan anak gadis orang. Bisa juga terjadi, keluarga si pemuda memberi restu dengan sebab yang beragam, misalnya ingin membuat malu keluarga si gadis dan lain sebagainya.

(3). Erangkale (Melarikan Diri)

Proses Annyala ini umumnya dimaknai sebagai tindakan si gadis lari dari keluarganya tanpa sepengetahuan orang tua, keluarga dan kerabatnya untuk menemui si pemuda, dan selanjutnya kawin di suatu tempat yang tidak diketahui oleh kedua keluarga, kecuali oleh mereka berdua. Tapi, penulis memaknainya juga sebagai proses janjian (assijanji). Faktanya di lapangan bisa kedua – duanya sama – sama lari dari keluarganya secara sendiri – sendiri, dan untuk selanjutnya bertemu di suatu tempat yang telah mereka sepakati berdua.

Proses Abbajik

Apabila terjadi perkawinan lari (Silariang, Nilariang, Erangkale), maka oleh pihak keluarga si gadis akan melakukan pengejaran, biasa disebut tu-masiri’, dan kalau mereka berhasil menemukan kedua pelarian itu, maka kemungkinan laki-laki (tu-mannyala) itu akan dibunuh. Tindakan membunuh tu-mannyala ini disebut appaenteng siri’ atau menegakkan harga diri dan kehormatan keluarga.

Karena perbuatan tu-mannyala (orang yang bersalah) biasanya jika diketahui bisa menimbulkan ketegangan dalam masyarakat, terutama dari keluarga sigadis. Sebab itu tu-mannyala harus dibunuh kecuali bila tu-mannyala tadi telah berada dalam rumah atau pekarangan anggota dewan hadat/pemuka masyarakat atau setidak-tidaknya telah sempat melemparkan penutup kepalanya (songkok atau destar) ke dalam pekarangan rumah anggota hadat tersebut yang berarti ia sudah berada dalam perlindungan, maka tak dapat diganggu lagi. Begitu juga kalau ia sedang bekerja di kebun, di ladang atau di sawahnya. Bila tu-mannyala tadi telah berada di rumah satu pemuka masyarakat (dalam hal ini imam atau kadhi) maka menjadi kewajiban baginya untuk segera menikahkan tu-mannyala.

Langkah pertama, orang tua sigadis (tu-masirik) dihubungi dan dimintai persetujuannya agar anaknya dapat dinikahkan. Biasanya orang tua tak dapat memberi jawaban apalagi bertindak sebagai wali, karena merasa hubungannya dengan anaknya mimateami (telah dianggap mati). Sebab itu, tak ada jalan lain bagi imam atau kadhi kecuali menikahkan tu-mannyala dengan ia sendiri bertindak sebagai wali hakim. Setelah itu, baru dipikirkan yang harus dilakukan tu-mannyala agar diterima kembali sebagai keluarga yang sah dalam pandangan adat. Hubungan antara tu-masiri’ dengan tu-annyala sebagai tu-appakasirik akan diterima selama tu-mannyala belum abbajik (damai).

Bila tu-mannyala mampu dan berkesempatan appakabajik (berdamai) ia lalu minta bantuan kepada penghulu adat/pemuka masyarakat tempatnya meminta perlindungan dahulu. Lalu diutuslah seseorang untuk menyampaikan maksud appala bajik (meminta damai) kepada keluarga tu-masirik atau kepada penghulu kampung tempat keluarga tu-masirik yang selanjutnya menghubungi keluarga tu-masirik agar berkenan menerima kembali tumate tallasa’na (orang mati yang masih hidup).

Keluarga tu-masirik lalu menyampaikan kepada sanak keluarganya tentang maksud kedatangan tu-mannyala appala bajik. Bila seluruh keluarga berkenan menerima kembali tu-mannyala tersebut, maka disampaikanlah kepada yang mengurus selanjutnya pada pihak tu-mannyala. Kemudian si tu-mannyala dengan keluarganya mengadakan persiapan yang diperlukan dalam upacara appala bajik tersebut. Keluarga tu-mannyala menyediakan sunrang sesuai aturan sunrang dalam perkawinan adat, selain menyediakan pula pappasala (denda karena berbuat salah). Pappasala dengan sunrang dimasukkan dalam ‘kampu’ disertai ‘leko’ sikampu’ (sirih pinang dalam kampu). Keluarga tu-mannyala juga yang wajib menyiapkan dalam pertemuan itu antara lain hidangan adat.

Pada waktu yang telah ditentukan, tu-mannyala (orang yang telah berbuat salah/aib) datang dengan keluarga yang mengiringinya ke rumah salah seorang tu-masirik (orang yang menderita malu atau yang dipermalukan). Sementara itu keluarga tu-masirik telah pula hadir. Dengan upacara penyerahan kampu dari pihak tu-mannyala/tu-mappakasirik yang diterima oleh tu-masirik maka berakhirlah dendam dan ketegangan selama ini. Tu-mannyala tadi meminta maaf kepada keluarga tu-masirik yang hadir dan pada saat itu dirinya resmi diterima sebagai keluarga yang sah menurut adat.

***

Saat ini mungkin “pacaran” dan “perselingkuhan” sudah menjadi hal yang sangat biasa. Kalau kita hidup di masa lalu dimana aturan – aturan adat masih kuat mengikat mungkin yang terjadi adalah pengekangan perasaan dan diri, sehingga terjadilah apa yang disebut silariang, nilariang dan erangkali. Dalam sepuluh tahun terakhir, saya malahan tidak pernah lagi dengar istilah ini disebut, apakah mungkin tidak pernah ada lagi kasus silariang, nilariang dan erangkali itu ataukah prakteknya kini sudah bermetamorfosis ke arah “Annyala” dalam ‘bentuk baru’.

Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.

Oleh: madidi75 | Mei 27, 2010

Ince’ di Pangkep

KALAU anda orang yang sering keluar masuk kampong Bontomangape, Lempangan, Bulu-bulu, dan Parang-parang maka anda tentunya sudah sering mendengar panggilan nama seseorang dengan predikat Ince’ atau Unda. Keempat kampong ini masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Tumampua Kecamatan Pangkajene, Pangkep. Penyebutan Ince atau Unda juga kita dapat temui pada sebagian kecil Kampung Tekolabbua Kelurahan Tekolabbua. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Ince atau Unda itu ? Bagi orang yang suka belajar Sejarah Sulawesi Selatan, Sejarah Gowa atau Sejarah Perang Makassar, mungkin sebutan Ince atau Unda ini akan mengingatkan kita pada sosok Ince Amin, juru tulis Sultan Hasanuddin, yang juga penulis “Syair Perang Mengkasar”.

Kata “Ince” sebenarnya merupakan plesetan atau penyesuaian dialek melayu ke dalam Bahasa Bugis dan Makassar. Aslinya kata ini adalah Enci atau Entji yang dalam Bahasa Melayu berarti paman. Hal ini agak kontras dengan pemakaian kata Unda bagi komunitas keturunan melayu yang menggunakan panggilan “Unda” bagi orang tua, yang menurut dugaan menulis juga berasal dari bahasa rumpun melayu yang berarti kakak atau seseorang yang dituakan. Penulis sendiri, karena sejak kecil dibesarkan di Kampung Lempangan (Kampung ini layak mendapatkan julukan Kampong Melayu karena boleh dibilang sembilan puluh persen warganya adalah keturunan melayu) dan ibu sendiri, adalah asli keturunan melayu maka seringkali penulis ‘kecipratan’ dipanggil “Unda”, walau secara keturunan—berdasarkan prinsip ambokemmi ma’pabatti—hal itu tentu menyalahi karena bapak keturunan bangsawan Bugis. Jika merujuk kepada cerita ini, Ince Amin, tentu saja adalah salah satu contoh keturunan Melayu yang mendapatkan kedudukan sangat terhormat dalam istana Gowa.

Jika ditilik dari sejarah panjang kedatangan dan keberadaannya di Siang (Pangkep), sebenarnya tidak layak lagi digolongkan sebagai keturunan melayu, namun sebagian kecil diantara komunitas ini begitu fanatik dengan ‘kemelayuannya’. Seringkali kita mendengar dalam pergaulan sehari – hari, “Ikatte antu tau malajua ….”, yang merupakan kebanggaan terhadap komunitasnya, begitu pula dengan narasi tutur (oral tradition) yang berkembang diantara mereka bahwa adalah hal yang pammali atau larangan memakan balacang (udang kecil) karena udang – udang kecil itulah yang (katanya) menyelamatkan perahu – perahu mereka, menempelkan diri secara bergerombol di badan perahu yang bocor.

***

Bangsa asing pertama yang datang / singgah ke Siang (Pangkep) adalah para pedagang melayu dari sebelah barat kepulauan nusantara. Hal ini diinformasikan oleh para pelaut Portugis dalam kepentingannya mencari pulau rempah-rempah (misi ekonomi perdagangan), selain untuk kepentingan penyebaran Agama Nasrani yang dibawa serta oleh para pendetanya (misi agama) misionaris. Kedatangan Portugis yang dipimpin Antonio de Payva, tahun 1544 ke Pelabuhan Suppa dan Siang adalah atas perintah Ruy Vas Pariera, Panglima Pasukan Portugis di Malaka. Kerajaan Malaka sendiri jatuh di tangan Portugis pada tahun 1511. (Th. Vanden End, 1996).

Dalam laporan Antonio de Paiva ketika mendarat di Siang pada tahun 1542 (Pelras, 1981 : 166-17), dia menyaksikan komunitas pedagang melayu di sepanjang pesisir barat Siang, dan bahkan sudah berbaur dengan penduduk pribumi setempat. Menurut Raja Siang saat menjamu de Paiva, Orang-orang Melayu di Siang sudah ada sejak 50 tahun lalu. Jadi, sekitar tahun 1490. Orang-orang Melayu itu terdiri dari orang Johor, Patani dan daerah lain di Semenanjung Melayu yang cukup memainkan peranan penting dalam hubungan perdagangan. Kalau ini benar, sudah dapat dipastikan bahwa Siang sudah lebih dahulu menerima (Agama / Pedagang) Islam dibandingkan dengan Gowa, meski tidak menjadi agama resmi kerajaan. Salah satu (mungkin) sebabnya, karena masih kuatnya “kepercayaan lama” dan pengaruh bissu, sebagai pendeta agama bugis kuna pra-Islam yang juga sebagai penasehat kerajaan.

Kedatangan orang – orang Melayu di Siang tentunya semakin menguatkan dugaan bahwa Islam masuk di Siang (Pangkep) melalui pintu perniagaan, karena orang – orang Melayu itu bukan saja datang untuk kepentingan berdagang tetapi juga menyebarkan agama Islam. Pada tahun 1490 sudah ada perkampungan Melayu di Siang, (Mukhlis, tt, A Saransi, 2003 : 88). Dibelakang hari, ketika Siang ditaklukkan Gowa, Orang-orang Melayu dari Siang inilah yang banyak membantu pembangunan pelabuhan Somba Opu, Makassar. Pun, Pada masa pemerintahan Karaeng Tumapakrisika Kallonna memegang tampuk pemerintahan Gowa, juga memberikan ijin tempat pemukiman bagi orang-orang Melayu di Kampung Mangallekana.

***

Sampai sekarang, tradisi tutur yang berkembang di Pangkajene menyebutkan bahwa keturunan orang – orang Melayu yang pernah datang ke Siang itu menempati Kampung yang namanya Lempangan dan Bontomangape (Jalan Coppotompong, Kelurahan Tumampua), serta sebagian besar wilayah Kelurahan Tekolabbua, sampai wilayah pesisir yang jauh, Parang-Parang dan Pandang Lau. Masyarakatnya akrab dipanggil “Unda” dengan penyebutan Gelar “Ince” di depan namanya. Misalnya, namanya Ince Unga, maka dipanggilnya dengan sebutan Unda Unga. Penyebutan “Ince” tersebut merupakan perubahan pengucapan kata Melayu ke dalam Bahasa Makassar yang cukup baik dari penduduk lokal, yang berasal dari kata “Entji” atau “Enci”.

Tempat asal yang dimaksudkan untuk menunjuk “Semenanjung Melayu” adalah Malaysia sekarang ini. Sampai sekarang sebutan “Enci” itu akrab kita dengar kalau ke Malaysia. Adaptasi yang baik orang-orang Melayu sehingga membuat penguasa setempat simpatik dan memberinya tempat permukiman. Bahkan salah seorang tokoh dari Semenanjung Melayu sempat diangkat Penguasa Gowa menjadi Raja di Siang, yaitu Ince Wangkang sebagai Raja Siang IX paska Siang menjadi vasal Gowa, menggantikan Karaeng Kaluarrang dari Labakkang.

Antara kampung Lempangan dan Paccelang, Kampung Tujua terdapat makam Raja Siang II Paska Siang menjadi Kerajaan Taklukan Gowa, yang bernama Johor atau Johoro’ (Mappasoro’). Johor atau Johoro’ ini merupakan sahabat baik Aru Palakka, yang pernah sama-sama La Tenritata ke Pariaman (Sumatera Barat) pada Abad XVII. Letaknya makamnya, Di Ponrok, yaitu ditengah-tengah hamparan persawahan antara Paccelang dan Baru-baru. Gelar anumertanya Johoro, Karaeng Siang Matinroe ri Ponrok. Sampai sekarang makamnya masih banyak dikunjungi, baik oleh warga sekitar maupun pendatang, bukan cuma sekedar ziarah, tapi juga meminta berkah dalam pekerjaan dan jodoh atau untuk kepentingan lain.

Hingga pertengahan Abad XV, para pedagang melayu Islam bukan saja telah menyebar hampir ke seluruh kepulauan Indonesia, termasuk wilayah barat jazirah Sulawesi Selatan, tetapi secara sosial bahkan telah muncul menjadi agen perubahan sejarah (agent of history change) yang penting. Meskipun belum sepenuhnya menyebar sampai ke pedalaman, namun setidaknya mereka telah banyak membangun diaspora – diaspora perdagangan, terutama di wilayah – wilayah pesisir pantai. Dengan dukungan kelas saudagar, proses islamisasi berlangsung secara besar-besaran dan hampir menjadi landskap historis yang dominan di Indonesia ketika itu.

Demikian yang dapat saya jelaskan. Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ Mariki di’.

Sejak masa kanak – kanak sampai remaja, saya sering bertanya kepada pak guru di sekolah atau pada orang tua di rumah, “Benarkah Tuhan (baca : Allah SWT) itu memiliki ‘sifat adil’ dalam menilai hambanya, dan seterusnya memasukkan hambanya tersebut ke dalam neraka sedangkan hamba (baca : manusia) tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri”.

Pengetahuan tentang Tuhan disini, tentu saja merujuk kepada pengetahuan tentang Ketuhanan sebagaimana diajarkan oleh agama yang diturunkan oleh Tuhan itu sendiri. Maksudnya saya disini, ada – ada saja orang tertentu yang didalam hidupnya tidak pernah mengenal agama, dan tentu saja tidak memiliki pengetahuan tentang siapa yang menciptakan dirinya atau tidak memiliki pemahaman tentang Tuhan itu sendiri, karena itu ‘Adilkah’ jika di pengadilan akherat nanti mereka – mereka ini dimasukkan ke dalam neraka, padahal selama hidupnya tidak ada pengetahuan yang sampai kepadanya tentang Tuhan dan Agama. Ok, mungkin disini masih membingungkan. Pertanyaan mendasar yang ingin saya ajukan disini, ”Bagaimana dengan masyarakat Bugis Makassar sebelum kedatangan Islam ? Apakah adil, jika Tuhan sampai memasukkan moyang leluhur kita tersebut kedalam neraka, padahal mereka—pada masa lampau—tidak ada pengetahuan yang sampai kepadanya, tentang Agama dan Ketuhanan ?.

Jika pertanyaannya seperti diatas, tentu akan meluas. Bukan hanya etnis Bugis Makassar pada masa lampau yang tidak mengenal Agama dan Ketuhanan (Baca : Islam). Bangsa atau etnis lain yang jumlah ratusan di nusantara ini pada masa lampau juga tidak mengenal Islam. Tidak usah jauh – jauh, beberapa etnis dan sub etnis di Papua sana sampai sekarang masih banyak yang belum tersentuh pengetahuan tentang Agama dan Ketuhanan. Tulisan ini pada akhirnya ingin berbicara tentang ”Tuhan” dalam perspektif budaya Bugis Makassar, dan supaya kita semua tidak terjerumus kepada pemikiran yang sesat dalam membicarakan Tuhan, tentu jawaban atas pertanyaan saya tersebut tidak semata menyandarkan pada jawaban budaya, tetapi juga pada kajian keagamaan.

Taruhlah mereka di masa lampau memiliki pengetahuan tentang ‘Tuhan’. Tapi apakah pemahaman mereka secara ‘etnisentrisme’ dapat dibenarkan secara teologis, menurut pandangan agama (baca : Islam) yang diturunkan oleh Tuhan (baca : Allah SWT). Sebagai contoh, dalam masyarakat Bugis Makassar, penamaan tentang ‘Tuhan’ itu bermacam – macam, ada yang menyebutnya : Dewata SeuwaE, PatotoE, Turie’ Arana, Puang Seuwae’ To PalanroE, Puang MappancajiE, Karaeng Allahu Ta’ala, Puangta Allah Ta’ala, dan lain sebagainya. Apakah penamaan etnisentrisme tentang ‘Tuhan’ ini dapat dibenarkan menurut pemahaman ajaran Agama Islam ? Apakah Nama – nama Tuhan tersebut menurut kepercayaan lama orang Bugis Makassar dapat disamakan dengan nama ‘Allah SWT’ sebagai nama Tuhan yang sah dan valid dalam konsep dan ajaran Islam ?.

***

Sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis Makassar sudah mempunyai “kepercayaan asli” (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama ‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa orang Bugis Makassar memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Menurut Mattulada, religi orang Bugis – Makassar masa Pra-Islam seperti tergambar dalam Sure’ La Galigo, sejak awal telah memiliki suatu kepercayaan kepada suatu Dewa (Tuhan) yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama : PatotoE (Dia yang menentukan Nasib), Dewata SeuwaE (Dewa yang tunggal), dan Turie A’rana (kehendak yang tertinggi).

Kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau PatotoE, diyakini pula mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan beragam tugas. Untuk memuja dewa – dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa pembantunya. Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang secara harfiah berarti mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong juga diwariskan petunjuk – petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat. Raja atau penguasa seluruh negeri Bugis Makassar mengklaim dirinya mempunyai garis keturunan dengan Dewa – dewa ini melalui Tomanurung (orang yang dianggap turun dari langit / kayangan), yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti kerajaan yang ada. (Kambie, 2003).

Istilah Dewata SeuwaE itu dalam aksara lontaraq, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya : Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis Makassar. De’watangna berarti “yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontarak Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE” merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis – Makassar. (Abidin, 1979 : 12 dan 59).

Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan “PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepercayaan Patuntung, lihat : Martin Rossler, “Striving for Modesty : Fundamentals of The Religion and Social Organization of The Makassarese Patuntung”, dalam BKI deel 146 2 en 3 en aflevering, 1990 : 289 – 324 dan WA Penard, “De Patoentoeng” dalam TBG deel LV, 1913 : 515 – 54.

Gervaise dalam “Description Historique du Royaume de Macacar” sebagaimana dikutip Pelras (1981 : 168) memberikan uraian tentang agama tua di Makassar. Menurut Gervaise orang-orang Makassar zaman dahulu menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang disembah pada waktu terbit dan terbenamnya Matahari atau pada saat Bulan tampak pada malam hari. Mereka tidak mempunyai rumah suci atau kuil. Upacara sembahyang dan Kurban – kurban (makassar : karoba) khususnya diadakan di tempat terbuka. Matahari dan Bulan diberi kedudukan yang penting pada hari-hari “kurban” (allo pakkarobang) yang selalu ditetapkan pada waktu Bulan Purnama dan pada waktu Bulan mati, karena itu pada beberapa tempat yang sesuai disimpan lambang-lambang Matahari dan Bulan. Tempat ini dibuat dari tembikar, tembaga, bahkan juga dari emas (Pelras, 1981 : 169).

Selain menganggap Matahari dan Bulan itu sebagai Dewa, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya. (Martinus Nijhoff, 1929, 365-366).

Kepercayaan lama yang sudah mengakar kuat bagi masyarakat Bugis Makassar memang berusaha dicarikan padanannya dalam ajaran Islam. Untuk merukunkan kedua kepercayaan itu, menurut Dr. Christian Pelras, penyiar agama Islam berusaha mengembangkan dalam kalangan istana suatu aliran mistik Bugis kuno dengan Tasawuf Islam. Hasil perpaduan dua kepercayaan itu, hingga kini masih bisa ditemukan dalam sejumlah naskah. Seperti yang telah dibicarakan oleh G Hamonic, dimana “Dewata SeuwaE’ PapunnaiE” (Dewata Tunggal yang Mempunyai kita) telah disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa ; “Dewa La Patigana” (Dewa Matahari) dan “Dewi Tepuling” (Dewa Bulan) disebut masing – masing sebagai “Malaikat Matahari” dan “Malaikat Bulan”. Adapun para Dewata dianggap termasuk bangsa Jin dan mitos tentang ’Sangngiang Serri’ sendiri tidak lagi dianggap sebagai “Dewi Padi” melainkan “jiwa padi”. (Kambie, 2003).

Penulis berkebangsaan Portugis, Tome Pires, yang mengunjungi Indonesia pada tahun 1512 – 1515, menyebutkan bahwa di Sulawesi Selatan terdapat sekitar 50 kerajaan yang masyarakatnya masih menyembah berhala. Salah satu bukti bahwa beberapa kerajaan di Sulawesi pada waktu itu tidak mendapat pengaruh Hindu tapi masih memiliki adat istiadat dan kepercayaan leluhur yang kuat, ialah dengan cara penguburan. (Nugroho Notosusanto, et.al, 1992). Praktek penguburan pada masyarakat Bugis Makassar pada waktu itu masih mengikuti tradisi pra-sejarah, yaitu jenazah dikubur mengarah timur – barat dan pada makamnya disertakan sejumlah bekal kubur seperti mangkuk, cepuk, tempayan, bahkan barang – barang impor buatan China, tiram, dan lain sebagainya. Juga dalam cara penguburan ini terdapat kebiasaan untuk memberi penutup mata (topeng) dari emas atau perak untuk jenazah bangsawan atau orang – orang terkemuka. (Pelras, 1972 : 208-210).

Macknight (1993 : 38) menyebutkan bahwa Penelitian arkeologi maupun berita Portugis melaporkan bahwa orang Makassar pada masa pra-Islam mempraktekkan penguburan kedua (sekunder), sebagaimana yang masih dipraktekkan orang Toraja sampai pada awal Abad XX dengan menggunakan gua-gua sebagai tempat penguburan. Raja dan bangsawan seluruh negeri Bugis, Makassar, bahkan termasuk Mandar dan Toraja di Sulawesi Selatan mengklaim diri mereka punya garis keturunan dengan Dewa – dewa melalui Tomanurung yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti yang ada. Mitos ini berkaitan dengan pandangan teologis (theology view) bahwa Dewata Seuwae’ melahirkan sejumlah Dewata (Rewata), yang merupakan asal usul Tomanurung, yang juga merupakan asal-usul seluruh penguasa dinasti di semenanjung Sulawesi Selatan. Mitos ini sangat kuat dipercayai dan tak tergoyahkan. (Kambie, 2003).

Dilihat dari perjalanan sejarahnya, masyarakat Bugis Makassar dikenal sebagai masyarakat yang sangat kuat berpegang pada kepercayaan lama yang bersumber dari Kitab La Galigo. Meskipun Islam sudah menjadi agama resmi Masyarakat Bugis Makassar namun Kepercayaan – kepercayaan lama itu masih mewarnai keberislaman mereka. Hal ini tercermin lewat berbagai ritual dan tradisi yang masih bertahan hingga kini. DGE Hall (Badri Yatim, 1996 : 211-212) mengungkapkan bahwa terlambatnya Islam diterima di Sulawesi Selatan, disebabkan kuatnya masyarakat Bugis Makassar berpegang pada adat dan kepercayaan lama. Menerima Islam, menurut mereka, akan berimplikasi pada perubahan budaya yang mendalam. Pada beberapa aspek tertentu, kepercayaan leluhur Bugis Makassar yang bersumber dari ajaran Sure’ Galigo dapat pula disebut agama karena menganjurkan penganutnya dan dalam kepercayaan tersebut terdapat berbagai aturan dan tata cara, yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian dan penghambaan diri terhadap Sang Maha Pencipta (PatotoE). (Kambie, 2003 : 68).

Menurut Pelras (1981 : 17), Orang Bugis – Makassar itu baru masuk Islam setelah berhubungan selama 120 tahun dan selama itu mereka menolaknya. Hal ini didukung oleh fakta sejarah bahwa Islam sudah dibawa oleh para pedagang Melayu di sekitar Abad XV, namun baru bisa menjadi agama resmi kerajaan, agama penguasa dan rakyatnya di penghujung akhir Abad XVII. Pelras juga menegaskan bahwa kesetiaan terhadap kepercayaan lama merupakan salah satu faktor penolakan Islam, sehingga butuh proses lama untuk merubah pandangan dan kepercayaan tersebut.

Pada saat pertama mengenal Islam, Raja-raja di Sulawesi Selatan khawatir dengan kehadiran Islam akan membahayakan aturan sosial dan kekuasaan mereka, khususnya terkait mitos Tomanurung. Dengan menganut Islam, berarti tidak ada lagi pembedaan status sosial berdasarkan keturunan, kebangsawanan atau kelahiran. Dalam pandangan Agama Islam, semua manusia sama kedudukannya dihadapan Tuhan, kecuali mereka (orang islam) yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

***

Sampai disini penjelasan tentang Dewata Seuwae’, saya kira kita sudah bisa menarik benang merahnya. Orang Bugis Makassar pada masa lampau sudah memiliki kepercayaan asli, yang berarti mereka memiliki pengetahuan tentang Ketuhanan. Hanya saja, apakah pemahaman mereka tersebut dapat dibenarkan secara agama ataukah pemahaman seperti itu dengan segala praktek kepercayaannya dapat digolongkan sebagai kaum musyrikin. Apakah dengan pemahaman ketuhanan seperti itu, masyarakat bugis makassar pada masa lampau dapat digolongkan sebagai masyarakat jahiliyah sebagaimana masyarakat jahiliyah Quraisy sebelum agama Islam diturunkan di tanah Mekkah.

Untuk menertibkan uraian pembahasan mengenai Dewata Seuwae’ ini, catatan ini nantinya diikuti dengan pembahasan tematik lainnya tentang Tomanurung, Sawerigading, dan Kitab La Galigo sehingga pertanyaan berikutnya yang layak diajukan adalah terkait dengan Qs. Yunus : 47 yang mengatakan bahwa, ”Dan kepada tiap golongan, terdapat seorang rasul”, dan Qs. An-Nahl : 36, ”… Dan sesungguhnya telah kami bangkitkan kepada setiap umat itu seorang rasul”. Seorang penulis potensial, AS Kambie (Parasufia, 2003) pernah mengulas tentang ini, dalam buku ”Akar Kenabian Sawerigading”, dengan pendekatan hermeneutik, dia mencoba menelorkan tesis bahwa Sawerigading adalah nabi bagi bangsa atau kaum Bugis Makassar dan Kitab La Galigo adalah kitab sucinya, apalagi jika ditilik dari sejarahnya, kaum Bugis Makassar sudah ada sejak abad I Masehi.

Dalam bahasa Arab, terdapat sejumlah kata yang kadang disetarakan dengan makna agama, seperti ad-dien, al-millah, dan asy-syir’ah wa minhaj. Kata ad-dien sendiri memiliki sejumlah makna, seperti al-inqiyad wa ath-tha’ah, artinya tunduk dan patuh (QS Al-Imran : 19), al-jaza, al-hisab, zalika ad-dien al-qayyim, maliki yaumi ad-dien, al-qadha, at-tha’ah, al-mukafah, al-hudhu, al-siyasa, as-syariah, dan lain sebagainya. Dien yang biasa diterjemahkan agama, menurut Syaikh M. Abdullah Badran, adalah gambaran hubungan antara dua pihak, dimana pihak pertama mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kedua. Jika merujuk kepada pengertian ini, tentu kepercayaan lama masyarakat Bugis Makassar tersebut tidak termasuk didalamnya karena bukan hanya salah konsep, tetapi juga menyalahi syariat.

Menurut Abdullah Badran, seluruh kata dalam bahasa Arab yang menggunakan huruf dal, ya, dan nun, seperti daenun, artinya utang. Atau dana yadienu, berarti menghukum atau taat. Kesemuanya menggambarkan adanya dua pihak yang melakukan interaksi (Shihab, 1992 : 209). Kesimpulannya, orang yang menunaikan ad-dien, berarti telah muslim, taat, penebus utang dan siap menghadapi hisab di hari kemudian. Bagaimana dengan Ad-dien orang Bugis Makassar yang banyak belo – belonya saat ini, dimana Dewata Seuwae’ masih sering diperdengarkan dalam kehidupan sosial dan pelaksanaan upacara adat ?

Demikian yang dapat saya jelaskan. Mohon tanggapan dan masukannya. Tabe’ . (*)

Di tahun 1997, saya pernah menginjakkan kaki dan menetap selama tiga bulan di Sorong, Irian Jaya (sekarang lebih populer disebut Papua) sebelum mencari kehidupan baru di Kaltim. Ketika itu saya berselisih paham dengan orang tua sehingga harus ’melarikan diri’ kesana. Saya pergi tanpa sepengetahuan orang tua dan keluarga lainnya. Maklum masih anak muda, kalau tidak dituruti keinginannya pasti mencak-mencak dan menyalahkan siapa saja yang berseberangan. Pokoknya, yang benar hanya diri sendiri, apapun alasannya.

Perjalanan kesana ditempuh selama delapan hari dengan menggunakan KM. Kambuna, dan setiba di Sorong (sekarang Kotif Sorong), saya  ngekost di belakang pasar sentralnya. Tempat kost lima petak itu milik orang Maros, ”akh saribattanga”, pikir saya. Kalau kita menginjakkan kaki pertama kali di kampungnya orang tentu harapan kita pertama adalah bagaimana kita bertemu atau menemukan orang yang seasal dengan kita dengan harapan akan tidak ada masalah dan syukur – syukur kalo ada urusan kita, mungkin dia bisa membantu, termasuk kemungkinan terburuk sekalipun. ”kelaparan”.

Barangkali ada diantara pembaca sekalian yang tidak percaya, bahwa saya kesana benar – benar nekad. Hanya bermodalkan tiket (tiket inipun disiapkan oleh sebuah perusahaan marketing di Makassar) dan uang di saku Rp 10.000,- itupun di pelabuhan berkurang Rp 3.000,- karena harus beli sikat gigi dan odol. Saya kira ini penting, ”apapun makanannya yang penting sudah makan harus sikat gigi” (maaf, waktu itu saya belum mengenal teh sosro).

Di hari kedua berada di Sorong, saya mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Pikiran saya, tentu akan menemukan orang – orang Irian yang tidak berbaju, dekil keriting, hitam legam dan berkoteka. Tapi, apa yang terjadi, masya allah, ketika saya masuk untuk pertama kalinya di pasar sentralnya, akh serasa tidak ada bedanya dengan kampung sendiri. Semua teriakan dan perbincangan tawar menawar di pasar itu berbahasa Bugis Makassar. Orang Segeri dan Maros paling banyak disana. Sampai tiga kali keliling pasar sentral itu tidak ada satupun bahasa Irian yang terdengar.

Disana, yang menguasai perekonomian lazim disebut orang BBM (Bugis, Buton, Makassar). Orang jawa transmigran lebih banyak di pedalaman dan hanya sesekali  ke pasar. Orang Cina sama sekali tidak direken disana dan jumlahnya pun sangat sedikit. Orang Menado ada juga disana, kata orang-orang pasar mereka lebih banyak berada di Lokalisasi nun jauh disana. saya tidak tahu nama daerahnya. (Maklum, tidak pernah kesana). Orang Irian sendiri, akh saya juga tidak tahu dimana tinggalnya, mungkin berpencar pada pinggiran hutan dan daerah pedalaman. Pernah mereka bersatu membawa sumpit, panah dan tombaknya. Kawanan primitif itu bermaksud menyerbu kawasan pasar dimana orang BBM ’berkuasa’, namun ketika orang Bugis Makassar mencabut badiknya, mereka lari tunggang langgang. Ada semacam cerita yang berkembang diantara mereka bahwa jika badik bugis makassar tercabut dari sarungnya, maka badik tersebut bisa terbang dan menyerang lawannya sendiri.

Selama tinggal disana, saya mengenal bahkan sangat akrab dengan seorang tokoh yang sangat disegani. Namanya H. Saleh dan beliau ternyata orang Segeri-Pangkep. Beliau orang yang rajin shalat, murah senyum, tawadhu’, dan banyak memfasilitasi keperluan ’Orang yang berjihad di jalan Allah’, suatu istilah yang sering dipakai komunitas  jamaah tabligh yang juga mendapat tempat berkembang disana. Tidak ada satupun orang di pasar sentral yang tidak mengenal pria berbadan tegap tinggi besar ini. Meski sudah cukup berumur saat saya bertemu dengannya, sisa – sisa keperkasaan sebagai tobarani itu masih ada. Ada pula yang menyebutnya mantan preman pasar, meski bekas ’daerah kekuasaannya’ bukan cuma pasar.

H. Saleh sendiri enggan menceritakan tentang dirinya. Dari para pengawalnyalah saya mendapatkan cerita tentang sepak terjangnya dimasa jahiliyahnya, meski ceritanya ini tak berhasil mengungkap masa – masa awal kedatangannya di Sorong dan berubahnya dia menjadi preman pasar. Diantara mantan pengawalnya itu, ada yang keberatan menyebut Saleh sebagai preman. ”Dia itu bukan preman, dia penjaga kita semua”, ungkap Baharuddin, orang Maros, pengawal setia Bos Saleh yang sekarang  lebih dikenal sebagai ustadz jamaah tabligh. ”Kalo di Mekkah ada nama Umar ibn Khattab yang sebelum masuk Islam sangat terkenal jahiliyahnya, maka di Sorong ada H. Saleh yang juga pernah terkenal kejahiliyahannya”.

Konon di masa jahilnya, kalau Bos Saleh ini kemana – mana ada sekitar 3 – 5 orang yang berjalan di belakangnya sebagai pengawalnya, meskipun ia tak minta dikawal. Penjahat lain akan keringat dingin kalo disebut nama Bos Saleh akan menghukumnya. Kalau dia keliling pasar, para pedagang tidak ada berani bicara, memandangnya atau melakukan tawar menawar dengan pembeli. Tidak ada tanah yang bisa dibebaskan pemerintah tanpa sepengetahuan dan persetujuan Bos Saleh ini. Dan karena dia sangat berkuasa, maka tentu saja juga kekayaannya tersebar di banyak tempat di Sorong. Orang – orang begitu segan kepadanya, apapun yang diinginkannya maka tinggal bilang saja. Orang – orang akan membawakannya.

Dia menguasai transaksi ikan di pelelangan, pengiriman hasil ladang dan kebun dari pedalaman, keluar masuknya barang di pelabuhan, dan ditangannya jualah segala keamanan sektor ekonomi perdagangan. Boleh dibilang, denyut nadi kehidupan ekonomi rakyat ada di tangannya.
Persentuhan dengan jamaah tabligh pulalah yang katanya merubah dirinya. Baru beberapa hari ikut jamaah tabligh, tiba – tiba ia  memiliki keinginan yang kuat sekali untuk naik haji. Para pengawalnya yang juga orang Bugis Makassar merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada Kota Sorong kalau Bos Saleh naik haji, karena itu para pengawalnya menyarankan agar kalau mau naik haji harus membawa serta semua keluarganya.

Benar saja, sepeninggalnya, banyak terjadi kebakaran di Kota Sorong, semua rumah Bos Saleh yang bertebaran di pelosok kota Sorong musnah dilahap si jago merah, termasuk rumah kontrakan dan rukonya.  Hanya satu rumahnya yang tersisa, sebuah ruko berlantai dua, tidak jauh dari Pasal sentral. Sekembalinya dari mekkah, Haji Saleh, (begitu panggilan akrab saya kepadanya), hanya tersenyum menyaksikan semua rumah dan rukonya musnah terbakar rata dengan tanah dan hanya tersisa satu untuknya, ”Barangkali rumah yang satu itulah yang bukan barang haram dan tidak menyimpan barang haram”, ujarnya. Itulah H. Saleh yang pernah Salah.

Kalau mau diulas sejarah kedatangan orang Bugis Makassar disana, tentu sudah sangat lama. Sewaktu di Sorong, saya sempatkan menghadiri pemakaman Hj. Lija, orang Maros, usianya 115 tahun. Beliau adalah nenek dari pemilik tempat kost saya. Orang Irian perkotaan yang juga sudah banyak menjadi pegawai di kantor – kantor pemerintah banyak menyimpan narasi tutur tentang persentuhan orang Bugis Makassar dengan orang Irian. Hal ini tentu sangat menarik untuk ditulis. Sayang, saya kesana hanya untuk ’jalan – jalan’, sekedar mencari tempat merenung dan proses pencarian  jati diri. (*)

"Become a Writer"

Di tahun 1997, saya merantau ke Kalimantan Timur dan selama 6 bulan di penghujung akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998, kerjaan saya hanya mondar mandir Samarinda – Balikpapan. Bidang Pekerjaan yang saya geluti kala itu cukup keren kedengarannya, ’marketing refresentatif’ meskipun kata kasarnya dapat disamakan dengan sales door to door. Yang sedikit mengobati kepedihan nasib kala itu karena produk yang dipasarkan adalah ilmu dalam kopor. Didalamnya ada buku dan cassetes panduan berbahasa asing, sehingga ada kesempatan juga mempelajarinya.

Pekerjaan marketing tersebut mengharuskan saya belajar mengenal banyak orang yang sebelumnya belum pernah saya kenal dan temui bahkan belum pernah saya ketahui latar belakang pribadi dan sosialnya. Dengan kata lain, inti pekerjaan ini adalah memperluas jaringan kerja (networking) dan kesuksesannya pun tergantung seberapa besar keahlian meyakinkan banyak orang dengan segala macam ‘fasilitas’ yang disiapkan : brosur, sampel produk, dasi (supaya keliatan kayak orang terpelajar dan profesional), semir sepatu (supaya sepatu tetap keliatan mengkilat meskipun seharian abis dipakai jappa paruntang), dan tentunya sedikit parfum. (yang terakhir ini sudah tidak kebayang baunya jika sudah bercampur keringat dan bau badan). Pekerjaan ini benar – benar menguras tenaga dan pikiran dengan hasil yang tentu saja jauh dari memuaskan.

Saya menghabiskan masa dua bulan terakhir sebelum kembali ke Makassar dengan ngekost di belakang gedung BRI Pusat Balikpapan dan disitu saya berkenalan dengan teman sebelah kamar. Saladin namanya, 24 tahun, masih lajang, orang Bandung, dan lulusan Teknik Arsitektur sebuah perguruan tinggi di Australia. Penampilannya sangat sederhana, tidak ada penampakan bahwa dia seorang yang terpelajar. Awal saya mengenalnya bahkan menganggapnya layaknya pengangguran, di kamar terus dan kalaupun dia keluar kamar hanya untuk mandi, makan, sapa teman kost yang lain dan main catur. Enjoy sekali menikmati hidup, seperti tidak ada beban.

Saya benar-benar dibuat penasaran, bagaimana dia membiayai hidupnya ? apakah dia orang kaya atau orangtuanya sangat kaya sehingga tidak perlu merasa bekerja, sedang biaya hidup di Balikpapan ketika itu sangat tinggi terlebih lagi tempat kost kami boleh dibilang kelas menengah yang tentu saja juga high cost, paling tidak untuk ukuran saya. Menurut beberapa teman kost lain, Si Saladin ini mempunyai tanah dan kebun yang dibelinya sendiri di beberapa daerah pedalaman Kaltim, dua kali sebulan dia hanya keluar untuk menengok tanah dan kebunnya tersebut. ”Luar Biasa”, pikir saya. Pekerjaan apa yang meraup hasil sedemikian besar hanya dengan tinggal ’berdebu’ di dalam kamar.

Suatu waktu, dia juga berkesempatan mengagumi saya karena dapat mengalahkannya main catur, bukan cuma sekali malah beberapa kali (tampona di’) dan sebagai hadiahnya dia berjanji akan mengajari saya komputer dan internet yang entah bagaimana caranya. Dia pun kemudian mengajak saya masuk di kamarnya, dan masya allah, dia memperlihatkan apa yang bisa dia kerjakan dalam kamar. Ketika itu ia memperlihatkan gambarnya di komputer, dengan program AutoCAD tentunya, sebuah arsitektur bangunan tingkat tinggi di jakarta. Sungguh desain yang mengesankan, malahan dia memperlihatkan pergerakan lift gedung itu dan apa yang terjadi dalam lift itu. ”hmm benar-benar hebat orang ini”, gumam saya. Dia ternyata selama ini mengerjakan pesanan arsitektur pembangunan gedung – gedung bertingkat tinggi dan alat komunikasinya, dua buah hape yang terletak disamping komputernya tersebut. Komputernya pun punya koneksi internet, web populer ketika itu adalah wasantara.net. Kamarnya itu menurut saya, ”high-tech room”.

Dalam usianya yang masih sangat muda selain smart dan kaya, orang ini juga sangat rendah hati dan tidak menonjolkan diri. Buktinya hapenya itu tidak pernah dibawa keluar kamar. Padahal ketika itu memiliki hape apalagi dua sekaligus adalah hal yang tidak lazim. Beda bener dengan sebangsa saya yang banyak bertebaran dimana – mana : mudah sombong, tinggi hati, gampang pamer, sudah itu miskin lagi, hahahaha ….

Saya tidak pernah melepaskan ingatan terhadap Saladin dan kamarnya ini, 10 tahun kemudian, 2008, saya mencoba membuat ruangan seperti kamarnya. Bukan sebagai arsitek, tapi sebagai penulis (hehehe … penulis lokalji kodong). Dua buah hape juga saya letakkan diatas meja dan dari dalam kamar itu saya mengerjakan pesanan buku penerbit dan buku – buku Pemda. Sekali sebulan saya ke Gowa melihat tanah kapling dan kebun yang saya beli dari hasil menulis buku. (hehehe…katiru-tirui di’). Komputer sayapun kini punya koneksi internet, web populer saat ini situs jejaring sosial semisal facebook. Akh ada yang berbeda dengan kamar Saladin, kalo kamarnya dia ”high-tech room”, kamar saya lebih mirip library room.

Bagiku, dia termasuk manusia langka, sukses dan matang di usia muda. Sukses karena berhasil di bidang ilmu dan pekerjaan yang digeluti dan matang karena berhasil menundukkan egonya, tidak terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan yang merusak. Sekarang, setelah 10 tahun berlalu, Si Saladin yang menginspirasiku tersebut tidak lagi kutahu keberadaannya. Mungkinkah sekarang dia online dan main facebook juga.

Semoga tulisan ini juga bisa menginspirasi pembaca lainnya untuk maju dan berkembang. (*)

Kategori